Sampah merupakan materi atau zat, baik yang bersifat organic maupun anorganik yang dihasilkan dari setiap aktivitas manusia. Aktivitas bisa dalam rumah tangga, industri, maupun kegiatan komersial. Sampah menjadi persoalan yang cukup serius bagi masyarakat terutama di wilayah perkotaan. Selama ini masyarakat membuang begitu saja sampah ke tempattempat sampah dan menyerahkan urusan selanjutnya kepada petugas kebersihan dan urusan selesai. Tetapi sesungguhnya permasalahan tidak selesai sampai di situ. Timbunan sampah di tempat pembuangan akhir menjadi problem tersendiri, problem kesehatan, pencemaran dan keindahan lingkungan (Mifbakhuddin, dkk, 2018).
Di negara-negara yang sudah maju biasanya sampah sudah diperkenalkan kepada anak-anak sekolah sejak dini. Pola itu meliputi reduce, reuse dan recycle, serta composting (3RC) yang merupakan dasar pengelolaan sampah secara terpadu. Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk pencegah penimbunan sampah. Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Recycle (mendaur ulang) merupakan kegiatan untuk mengolah kembali sampah sehingga dapat mengurangi penumpukan sampah, dan composting yang merupakan dasar dari pengelolaan sampah secara terpadu menjadi suatu pupuk organik (Sidarto, 2017).
A. Proses Pengelolaan Sampah
Secara umum kegiatan pengelolaan sampah meliputi pewadahan dan pengangkutan sampah dari sumber ke tempat pembuangan akhir atau ke tempat pemusnahan. Dalam hal ini semua sampah dipandang sebagai barang yang tidak berguna dan tidak dapat dimanfaatkan sehingga mengelola sampah dianggap sebagai membuang biaya dan biasanya masyarakat enggan untuk membuka usaha pengelolaan sampah dan akhirnya pengelolaan sampah di bebankan kepada pemerintah. Secara garis besar proses pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut (Sidarto, 2017) :
- Sampah dikumpulkan ke tempat pengumpulan sampah dari rumah-rumah penduduk dengan menggunakan alat angkut berupa gerobak dorong setiap hari atau paling lama dua hari sekali.
- Sampah dipisah-pisahkan sesuai jenisnya yaitu, plastik, kertas, kaca logam, dan sampah organik kedalam tempat yang telah disediakan.
- Setelah dipisah-pisah sesuai dengan jenisnya, selanjutnya dilakukan pengepakan.
- Sampah dari plastik, kertas, dan kaca-logam, langsung dijual kepada pengepul sampah.
- Untuk sampah organik diproses menjadi kompos dan setelah jadi dapat dijual kepada petani atau masyarakat yang membutuhkan.
Kompos merupakan bahan organik yang terdiri dari sisa-sisa tanaman, hewan, ataupun sampah-sampah kota yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan sebelum bahan tersebut ditambahkan kedalam tanah. Bahan utama kompos dapat berupa sampah rumah tangga, daun-daunan, jerami alangalang, rumput-rumputan, sekam, batang jagung, kotoran hewan, dan bahan lainya terutama yang mudah busuk. Kandungan unsur hara dalam pupuk organic tidak terlalu tinggi tapi jenis pupuk ini memiliki keistimewan lain yaitu dapat memperbaiki sifat tanah, struktur tanah, daya menahan air dan kation-kation tanah ( Ida 2015 ).
B. Faktor yang mempengaruhi proses pengomposan
1. Ukuran bahan
Proses pengomposan dapat dipercepat jika bahan mentah kompos dicincang menjadi bahan yang lebih kecil. Bahan yang kecil akan cepat didekomposisi karena peningkatan luas permukaan untuk aktivitas organisme perombak
2. Nisbah Karbon-Nitrogen (C/N)
Nisbah C/N bahan organik merupakan factor yang paling penting dalam pengomposan. Hal tersebut disebabkan mikroorganisme membutuhkan karbon untuk menyediakan energi dan N yang berperan dalam memelihra dan membangun sel tubuhnya (Gunawan dan Surdiyanto, 2016). Kisaran nisbah C/N yang ideal adalah 20-40, dan nisbah yang terbaik adalah. Nisbah C/N yang tinggi akan mengakibatkan proses berjalan lambat karena kandungan N yang rendah, sebaliknya jika nisbah C/N terlalu rendah akan menyebabkan terbentuk amoniak, sehingga N akan hilang ke udara (Gunawan dan Surdiyanto, 2016).
3. Kelembaban
Dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme sangat tergantung pada kelembaban. Umumnya mikroorganisme dapat bekerja dengan kelembaban sekitar 40%-75%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme dapat bekerja secara optimal. Kelembaban yang lebih tinggi atau rendah dapat menyebabkan mikroorganisme tidak berkembang atau mati.
4. Temperatur Pengomposan
Pengomposan akan berjalan optimal pada suhu yang sesui dengan suhu optimum pertumbuhan mikroorganisme perombak. Suhu optimum pengomposan berkisar antara 35-55o C, akan tetapi setiap kelompokmikroorganisme mempunyai suhu optimum yang berbeda sehingga suhu pengomposan merupakan integrasi dari berbagai jenis mikroorganisme. Pada pengomposan secara aerobik, akan terjadi kenaikan suhu yang cepat selama 3-5 hari pertama. suhu tinggi berfungsi untuk membunuh bibit penyakit (patogen), menetralisir bibit hama (seperti lalat) dan mematikan bibit rumput yang resisten, 10 hari pertama pengomposan temperature naik hingga mencapai temperatur maksimal 64-69oC selama hampir 4 jam. Fase termofilik dicapai pada temperatur 50o C, 44o C, dan 38o C selama 14 hari. Kemudian temperatur turun hingga mendekati angka 30o C, (Nengsih, 2015).
5. Derajat Keasaman (pH)
Indikasi proses degradasi bahan organik pada proses pengomposan dapat dilakukan dengan mengamati terjadinya perubahan pH kompos. Derajat keasaman (pH) yang dituju adalah 6-8,5 yaitu kisaran pH yang pada umumnya ideal bagi tanaman. Hasil dekomposisi bahan organik ini menghasilkan kompos yang bersifat netral sebagai akibat dari sifat-sifat basa bahan organik yang difermentasikan. Pada pengomposan pupuk organik pada nilai pH pada hari ketiga berkisar dari 7,66-8,84 dan hari keenam berkisar dari 8,66-9,08 (Nengsih, 2015).
6. Mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan
Pengomposan akan berjalan lama jika mikroorganisme perombak pada permulaanya sedikit. Mikroorganisme sering ditambahkan ke bahan yang akan di komposkan yang bertujuan untuk mempercepat pengomposan. Populasi mikroorganisme selama berlangsungnya selama proses pengomposan akan berfluktuasi.berdasrkan kondisi habitatnya (terutama suhu), mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan tersebut terdiri dari dua golongan yaitu mesofilik dan termofilik. Mikroorganisme yang berperan adalah termofilik mikroorganisme mesofilik pada hakekatnya berfungsi memperkecil ukuran partikel zat organik sehingga luas permukaan partikel bertambah. Bakteri termofilik yang tumbuh dalam waktu yang terbatas berfungsi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan protein, sehingga bahan-bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat.
C. Kualitas Kompos
Indonesia telah memiliki standar kualitas kompos, yaitu SNI 19-7030-2004 dan peraturan menteri pertanian No. 02/Pert/HK.060/2/2006. Didalam standard ini termuat batas-batas maksimum atau minimum sifat-sifat fisik, kimiawi atau biologi kompos. Untuk mengetahui seluruh kriteria kualitas kompos ini memerlukan analisa labolatorium. Standarlisasi penting untuk kompos-kompos yang dijual kepasaran. Standar ini menjadi salah satu jaminan bahwa kompos yang dijual benar-benar merupakan kompos yang telah siap diaplikasikan dan tidak berbahaya bagi tanaman, manusia, maupun lingkungan. Standar kualitas yang terkandung dalam kompos matang dapat ditingkatkan.




kirim komentar ya teman teman
EmoticonEmoticon