sumber gambar : unsplash.com
A. Pengawasan Kualitas Air di Sarana Pariwisata Cagar Alam
Perjalanan wisata dapat mempermudah terjadinya penularan penyakit, Akses manusia terhadap perjalanan ini dapat mendatangkan masalah apabila kawasan asal dan kawasan tujuan tidak memenuhi standar hygiene dan sanitasi, utamanya air bersih. Salah satu risikonya adalah potensi terjadinya kontaminasi terhadap air. Contoh : Wisatawan makan di rumah makan di sekitar tempat wisata. Apabila air yang digunakan terkontaminasi oleh kuman pathogen maka wisatawan tersebut dapat menderita penyakit, perut, diare, atau penyakit yang lain. Ketersediaan air bersih. Apabila masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan air bersih maka dapat dipastikan tingkat kesehatannya akan meningkat dibandingkan dengan masyarakat yang ketersediaan airnya terbatas. Oleh karena itu akan dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
B. Jalur Transmisi Infeksi Terkait dengan Kualitas Air Cagar Alam
Air dapat menimbulkan dan menularkan penyakit pada pengunjung, penghuni di, pariwisata cagar alam. jalur transmisi infeksi yang terkait dengan air yaitu :
Transmisi Infeksi oleh Vektor Insekta yang terkait Air (Water-related Insect Vector). Hal ini penting untuk Anda perhatikan karena demikian mudah air tercemar. Transmisi ini terjadi karena vektor nyamuk menularkan parasit ke dalam tubuh terutama karena manusia berada disekitar lingkungan air yang ada di sarana pariwisata cagar alam. Beberapa penyakit infeksi vektor yang perlu diwaspadai adalah demam berdarah, filariasis dan malaria.
a. Demam Berdarah Dengue
Penyakit demam berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti ini nyamuk. Nyamuk ini juga suka bertelur dan berkembang biak di genangan air, bak mandi yang ada dilingkungan pariwisata cagar alam. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan demi terhindar dari penyakit demam berdarah. Dan hal utama yang terlebih dahulu kita lakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan, agar tidak ada genangan air yang bisa dijadikan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk, Menguras tempat air yang selalu di gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, agar tidak ada telur ataupun jentik nyamuk, mengubur dan membuang sampah dengan benar agar tidak ada tempat untuk perkembangbiakan nyamuk. Langkah-langkah tersebut adalah beberapa kegiatan sederhana yang justru memiliki peran penting dalam mencegah dan menghindari penyakit demam berdarah.
b. Filariasis
Filariasis merupakan penyakit infeksi oleh parasit cacing Filaria dan Wuchereria bancrofti yang ditularkan melalui culex. Nyamuk culex banyak ditemukan di Indonesia, penularan terjadi ketika nyamuk mengisap darah sambil melepas bentuk infektif parasit yang akan berkembang melalui beberapa stadia. Cacing filarial dewasa ayang berada di dalam tubuh akan menyumbat saluran limfe dan menyebabkan bendungan aliran limfe dengan akibat pembengkakan organ tubuh dan berakhir dengan cacat.
c. Malaria
Malaria berkembang terkait dengan tempat perindukan nyamuk Anopheles di air yang tergenang dan merupakan penyakit endemic dibeberapa Negara berkembang. Malaria menjadi penyebab utama kematian. Penyakit ini ditandai dengan nyeri otot dan sendi, demam tinggi disertai menggigil, nyeri kepala, mungkin juga disertai diare dan muntah.
C. Penyehatan Lingkungan Bangunan di Pariwisata Cagar Alam Lingkungan Bangunan
- Lingkungan bangunan bebas dari banjir, jika ada di daerah banjir perlu menyediakan peralatan atau teknologi untuk mengatasinya.
- Lingkungan transportasi dan pariwisata wajib menyelenggarakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) namun juga perlu menyediakan tempat khusus untuk merokok.
Syarat-syarat tempat khusus merokok adalah :
- Ruang terbuka atau ruang yang berhubungan langsung dengan udara uar sehingga udara dapat bersikulasi dengan baik
- Terpisah dari gedung/tempat/ruang lain yang dilakukan untuk beraktivitas
- Jauh dari pintu masuk dan keluar
- Jauh dari tempat orang berlalu lalang
- Diberi simbol tempat khusus untuk merokok
- Luas lahan bangunan dan halaman wajib disesuaikan dengan luas lahan secara keseluruhan, sehingga tersedia tempat parkir dan rambu rambu yang memadai.
- Lingkungan transportasi, pariwisata dan matra harus tidak becek, tidak terdapat genangan air yang akan memicu terjadinya perkembangbiakan nyamuk, saluran dalam keadaan tertutup menyesuaikan luas halaman.
- Lingkungan bangunan diluar harus dilengkapi dengan penerangan dengan yang cukup.
- Lingkungan ruang bangunan dan halaman harus selalu dalam keadaan bersih dan tersedia fasilitas sanitasi secara kuantitas dan kualitas yang memenuhi syarat kesehatan sehingga tidak menimbulkan tempat bersarangnya dan berkembangbiaknya serangga, binatang pengerat dan binatang pengganggu lainnya.
- Lingkungan transportasi,pariwisata dan matra harus mempunyai batas yang jelas, dapat dilengkapi dengan pagar.
- Di area parkir (luar)dan halaman luar
- Disediakan tempat sampah
- Rambu-rambu jalan (masuk dan keluar kendaraan), titik kumpul dan lain-lain
- Penghijauan
- Terdapat bak sampah dengan minimal 1 buah radius 20m
- Bersih
- Tidak becek dan tidak berdebu
- Ruang tunggu dan tempat tempat tertentu yang menghasilkan sampah harus disediakan tempat sampah.
D. Konstruksi Bangunan Pariwisata Cagar Alam
a. Lantai
- Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, warna terang, mudah dibersihkan,
- Lantai yang selalu kontak dengan air perlu mempunyai kemiringan yang cukup 1-2% kearah saluran pembuangan air limbah sehingga tidak terjadi genangan.
- Pertemuan lantai dengan dinding berbentuk konus/lengkung sehingga mudah untuk dibersihkan.
b. Dinding
Permukaan dinding kuat, rata, berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat
c. Ventilasi
Ventilasi merupakan proses untuk memasukkan udara segar ke dalam bangunan gedung dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Pembuatan ventilasi pada bangunan-bangunan Hunian, dimana ventilasi tersebut mempunyai banyak fungsi :
- Untuk menjaga agar aliran udara di dalam ruangan tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni tersebut tetap terjaga,
- Untuk menjaga agar ruangan selalu tetap didalam kelembaban (humudity) yang optimum.
Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam ruangan yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadi proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit).
d. Atap
Fungsi utama atap yakni untuk melindungi gedung dari perubahan cuaca baik panas, hujan, salju, petir, angin, debu, dan sebagainya. Atap juga memiliki fungsi proteksi untuk menutupi ruangan yang berada di bawahnya, menahan radiasi panas yang berlebihan, mencegah tampias hujan, dan mengurangi pergerakan angin. Pada perkembangannya, atap pun mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi estetika suatu bangunan.
Agar atap berfungsi dengan baik maka :
- Atap harus kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat perindukan serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya.
- Atap yang lebih dari 10 meter dari tanah perlu dilengkapi dengan penangkal petir.
E. Pengawasan Kualitas Air Limbah di Pariwisata Cagar Alam
Limbah cair dan feces merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya kehidupan manusia di sarana transportasi pariwisata cagar alam. Limbah cair lain dihasilkan dari air hujan sebagai salah satu komponen limbah cair yang timbul secara alamiah dari aktivitas alam. Limbah cair dan feces timbul sebagai akibat dari adanya kehidupan manusia sebagai makluk individu dan makluk sosial.
Air limbah terdiri dari 3 fraksi penting yaitu :
- Feces
- Air seni
- Gree water (air dari kamar mandi, cucian dapur, cucian baju, cucian kendaraan).
Limbah cair dan feces di pariwisata cagar alam apabila tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan beberapa hal sebagai berikut.
- Pencemaran badan air, sungai atau telaga yang dapat menimbulkan kematian ikan. Contoh: saluran pembuangan air limbah dari warung yang mengandung banyak senyawa organik banyak akan nutrient sehingga terjadi pertumbuhan algae yang cepat atau sering disebut algae bloom. Algae atau tumbuhan menutup permukaan air sehingga tumbuhan yang ada di bawah tidak dapat melakukan proses fotosintesis sehingga kandungan O2 berkurang. Ikan dan makhluk hidup lainnya memerlukan O2 untuk bernafas, akan mati karena O2 berkurang.
- Mencemari air tanah sehingga air tidak layak untuk dikonsumsi.
Banyak contoh dari lalainya kita bersama dalam mengelola limbah, sehingga sering terjadi peristiwa banjir karena sistem saluran buangan limbah cair dan air hujan tidak dirawat sebagaimana mestinya. Hal ini akan mengakibatkan sumbatan-sumbatan endapan lumpur karena kurang perawatan. Limbah cair yang tertahan atau tergenang dilokasi tertentu dalam waktu yang relatif lama dapat menjadikan sarang perkembangbiakan nyamuk, vektor penyakit, malaria, demam berdarah, filariasis dan lain lain.
F. Prosedur Pembuangan Air Limbah pada Sarana Pariwisata Cagar Alam
Penanganan limbah cair meliputi berbagai proses, yakni penyaluran, pengumpulan, pengolahan limbah cair, serta pembuangan lumpur yang dihasilkan.
1. Tahap Penanganan, Proses Penyaluran dan Pengumpulan Proses ini meliputi sistem perpipaan, sistem penyambungan pipa kesaluran pengumpul, sistem penyaluran limbah cair dan kelengkapannya, seperti lubang pemeriksaan (manhole) serta pemompaan. Penyaluran dan pengumpulan limbah cair disalurkan dari berbagai sumber (warung, kamar mandi, perkantoran, dapur, wastafel) di sarana transportasi, pariwisata dan matra melalui saluran yang kedap air, bahan yang kuat dan tertutup.
2. Tahap Pengolahan Tahap pengolahan yang dimulai dari tahap pengolahan pendahuluan (pretreatment atau preliminary treatment) pengolahan tahap pertama (primary treatment), Pengolahan tahap kedua (secondary treatment), pengolahan tahap ketiga (tertiary treatment), dan pengolahan penanganan lumpur (sludge disposal).
G. Pengawasan Kualitas Toilet di Pariwisata Cagar Alam
toilet merupakan tempat yang potensial sebagai sarana penyebaran penyakit bila sanitasi dan higiene-nya tidak dipelihara dengan baik. Toilet umum bukan sekadar tempat membuang hajat semata, tapi sudah menyangkut banyak aspek. Antara lain aspek psikologis pengguna, aspek kesehatan dan keamanan pengguna, pemeliharaan dan lingkungan, hingga aspek estetika. Keberadaannya dengan standar tertentu merupakan suatu hal yang sangat penting. Sebab, toilet umum yang baik bisa menggambarkan budaya sebuah negara.
H. Kriteria atau Kelengkapan Ruang Toilet Umum yang Memenuhi Syarat Kesehatan
Toilet merupakan kebutuhan pokok manusia. Diperlukan kesadaran dari berbagai pihak untuk menjaga kebersihan toilet. Banyak penyakit yang bisa ditimbulkan akibat toilet kotor, seperti diare, infeksi saluran pernapasan, tifus, dan infeksi saluran kencing.
- Air Bersih Salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam toilet adalah air bersih dengan jumlah yang cukup beserta gayung. Apalagi budaya Indonesia yang masih sangat mengandalkan air untuk membersihkan diri.
- Kloset yang Bersih Kloset duduk maupun jongkok yang bersih dan tidak berbau juga menjadi syarat sehat toilet. Idealnya kloset dibersihkan secara teratur setelah 3 (tiga) kali pakai. Dengan begitu maka kloset akan selalu terjaga kebersihan dan kehigienisannya.
- Ventilasi dan Pencahayaan yang Cukup Ventilasi dan pencahayaan yang cukup akan membuat toilet tidak lembap, karena toilet yang lembap akan menjadi saran kuman. Kuman akan terus berkembang biak di tempat yang lembap. Hal tersebut tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan. Toilet yang baik mempunyai kelembaban 40 - 50 %, dengan taraf pergantian udara yang baik yaitu mencapai angka 15 air-change per jam (dengan suhu normal toilet 20-27 derajat celcius).
- 4. Sistem pencahayaan toilet umum dapat menggunakan pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Iluminasi standar 100 - 200 lux.
- Konstruksi Bangunan Toilet Umum
- Lantai toilet, kemiringan minimum lantai 1 % dari panjang atau lebar lantai.
- Dinding, ubin keramik yang dipasang sebagai pelapis dinding, gypsum tahan air atau bata dengan lapisan tahan air.
- Langit-langit, terbuat dari lembaran yang cukup kaku dan rangka yang kuat sehingga memudahkan perawatan dan tidak kotor
- Kondisi Toilet Upayakan Tetap Kering Selalu usahakan dinding dan lantai toilet tetap kering. Selain mencegah kuman berkembang biak, lantai yang kering juga menjamin keselamatan pengguna toilet.
- Tempat sampah
- Dilengkapi dengan sabun
Selanjutnya perlu dilengkapi tempat cuci tangan dengan syarat
- a. Wastafel dalam kondisi bersih tidak ada rambut
- b. Air tidak berbau dan tidak berwarna dan jumlah cukup
- c. dilengkapi dengan sabun atau pembersih
I. Pengawasan Kualitas Udara dan Pengelolaan Sampah di Pariwisata Cagar Alam
Dengan meningkatnya sarana transportasi dan perkembangan pariwisata, Industri kualitas udara mengalami perubahan. Beberapa gas seperti SO2, H2S, dan CO selalu dibebaskan ke udara sebagai produk sampingan dari proses alami seperti pembusukan sampah, air limbah baik di sarana pariwisata cagar alam, Selain itu partikel-partikel padatan atau cairan berukuran kecil dapat tersebar di udara oleh angin.
J. Pengawasan Pengelolaan Sampah di Pariwisata Cagar Alam
Sampah merupakan bahan buangan padat yang sudah tidak dipakai lagi akibat dari aktivitas di pariwisata cagar alam. Besarnya sampah yang dihasilkan sebanding dengan jumlah pengunjung dan juga penghuni. Semakin besar jumlah pengunjung dan penghuni maka semakin besar pula volume sampah yang dihasilkan.
Secara umum pembuangan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan :
- Banjir
- Tempat berkembangbiaknya dan sarang dari serangga
- Dapat menjadi pengotoran tanah, sampah anorganik tidak terdegradasi akan membuat kesuburan tanah menurun, bahkan menyebabkan tanah tandus.
- Menyebabkan pencemaran air dan udara
- Sumber dan tempat hidup dari kuman-kuman yang membahayakan kesehatan manusia.
Adapun proses lengkap tahapan pengelolaan sampah dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
1. Timbulan Sampah Banyaknya sampah yang timbul dari aktivitas manusia yang ada di pariwisata cagar alam. Timbulan (sumber) sampah ini merupakan tahap pengelolaan pertama di mana barang-barang sudah tidak diperlukan lagi oleh pemiliknya sehingga tidak mempunyai nilai apa-apa dan dibuang. Pada aktivitas di pariwisata banyak ditemukan sampah dengan komposisi bervariasi diantara plastik, kaleng, kayu dan, yang lain.
2. Pewadahan Sampah Menampung sampah merupakan tahap ke dua dalam pengelolaan sampah. Pewadahan sampah adalah menampung sampah sementara dalam suatu wadah ditempat sumber sampah. Pola pewadahan di , pariwisata cagar alam
a. Level-1 : wadah sampah yang sering disebut TPS yang menampung sampah langsung dari sumbernya. diletakkan dekat dengan sumbernya dan terlihat oleh sipemakai, misalnya diletakkan dipinggir jalan tempat wisata dsb. Wadah sampah jenis ini adalah tidak berat, mudah dikosongkan tertutup dan sampahnya mudah dibawa ke wadah sampah level-2. Volume sampah 50 – 60 liter , wadah sampah /tong yang ada roda 120 – 140 liter peletakkannya dengan jarak 10 meter antara TPS yang satu dengan yang lain untuk yang bearda di ruangan, untuk yang berada dliluar ruangan jaraknya 20 meter. Pola pewadahan sampah pada level 1 disediakan 2 sampai 3 wadah dalam setiap titik lokasi. Untuk memudahkan dan ketepatan dalam membuang sampah maka diperlukan symbol tanda pada setiap bak sampah. Periode pemindahan sampah tergantung dari dari komposisi sampah, semakin bersar prosentase organik, semakin kecil periode pelayanannya contoh sampah dari warung ditempat wisata karena banyak sampah basah sisa makanan maka 0,5 – 1 hari sekali, di kumpulkan di bak sampah level 2, namun sampah perkantoran 1 – 3 hari.
b. Level-2: bersifat sebagai pengumpul sementara, merupakan wadah yang menampung sampah dari wadah level -1 maupun langsung dari sumbernya. Wadah sampah level-2 ini diletakkan di tepi jalan yang mudah dilihat berfungsi sebagai titik temu antara sumber sampah dan sistem pengumpul, maka guna kemudahan dalam pemindahannya. Volume lebih besar dari bak sampah level- 2. Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi khusus dan ditempatkan sesuai dengan sistem pengangkutan sampahnya. Mengingat bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah tersebut, maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: kuat dan tahan terhadap korosi, kedap air, tidak mengeluarkan bau, tidak dapat dimasuki serangga dan binatang, serta kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung. Di beberapa tempat pariwisata dan tranportasi yang ada diperkotaan beberapa disediakan oleh Dinas Pekerjaan umum berupa Container truk besar dengan Volume 6m3 – 10m3
3. Pemindahan Pemindahan sampah merupakan tahapan untuk memindah sampah dari wadah level 1 di pindahkan dengan alat angkut manusia atau dengan mekanik ke wadah level 2 , Periode pemindahan sampah tergantung dari dari komposisi sampah, semakin besar prosentase organik, semakin kecil periode pelayanannya contoh sampah dari warung ditempat wisata karena banyak sampah basah sisa makanan maka 0,5 – 1 hari sekali, di kumpulkan di bak sampah level 2, namun sampah perkantoran 1 – 3 hari. Pemindahan dari level II ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA), karena lokasi cukup jauh menggunakan truck, untuk wadah level II yang menggunakan container pengangkutan menggunakan truck dilakukan secara mekanik (load Haul). Periode pemindahan sampah di TPS ini 1 hari sekali.
4. Transportasi (Pengangkutan) Transportasi (pengangkutan) dilakukan pada pewadahan level I diangkut ke pewadahana level II, alat angkut di transportasi, pariwisata dan matra umumnya mengunakan tenaga manusia yaitu menggunakan gerobak namun juga ada yang menggunakan tenaga motor yang diberi bak. Pengangkutan dari pewadahan level II, sampah diangkut di tempat pembuangan kahir (TPA), menggunakan tenaga mekanik berupa truk.
5. Pemilahan dan Pengolahan Anda mahasiswa, sudahkah Anda melakukan pemilihan sampah dan mengolahnya dirumah atau ditempat kerja? Berikut ini kita simak bersama terkait dengan pemilahan dan pengolahan sampah yang dapat bernilai ekonomi. Sampah sebelum di angkut di buang di TPA perlu dilakukan pemilahan dan pengolahan terlebih dahulu hal ini dilakukan pada setiap level pewadahan, tujuan pemilahan untuk mengurangi volume sampah yang akan dibuang di tempat pembuangan akhir sampah dan memanfaatkan kembali dan mengolah sampah menjadi nilai ekonomi. Pengolahan sampah tergantung dari komposisi sampah, berbagai alternatif yang dapat dilakukan dalam pengolahan sampah, diantaranya:
a. Transformasi fisik sampah Transformasi fisik meliputi pemisahan komponen sampah (sorting) dan pemadatan (compacting) dengan tujuan memudhkan penyimpanan dan pengangkutan.
b. Pembuatan kompos Kompos adalah pupuk alami terbuat dari bahan-bahan hijauan dan bahan organik lain contohnya kotoran hewan yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses derkomposisi sampah. Pengolahan sampah menjadi kompos merupakan proses mikrobiologi dan berjalan secara aerobic dan aerobik yang saling menunjang. Saat pengomposan terjadi perombakan bahan organik menjadi komponen lebih sederhana dan stabil dalam larutan terbentuk ionic dan diserap oleh tumbuhan. Proses pengomposan ini srcara garis besar disebut dekomposisi dan terbentuk dalam kurun waktu 30-90 hari. Tidak semua jenis sampah bisa dijadikan bahan dalam pembuatan kompos. Jenis yang dipakai adalah sampah organik yang mudah sekali membusuk atau garbage. Pemilahan dan penyeleksianpun menjadi penting dalam pengolahan sampah menjadi kompos.
6. Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA)
7. Anda mahasiswa TPA merupakan tahap akhir dari pengelolaan sampah, apakah di tempat Anda bekerja ada tempat pembuangan akhir sampah ? mari kita bahas bersama terkait dengan pembuangan akhir sampah. TPA merupakan tempat akhir sampah yang diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya dan kesehatan masyarakat, oleh karena itu diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik. Di TPA, sampah masih mengalami proses penguraian secara alamiah oleh bakteri. Sampah organik dapat terurai lebih cepat contohnya sisa makanan, sayuran kulit buah, sementara yang lain lebih lambat misalnya kertas, kayu, daun kering ; bahkan ada beberapa jenis sampah yang tidak berubah sampai puluhan tahun; misalnya plastik, sterofoam hal ini memberikan gambaran bahwa setelah TPA selesai digunakanpun masih ada proses yang berlangsung dan menghasilkan beberapa zat yang dapat mengganggu lingkungan. Karenanya masih diperlukan pengawasan terhadap TPA yang telah pebuh dan di tutup.
Ada Beberapa metode pembuangan sampah antara lain:
a. Open dumping Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada satu lokasi, dibiarkan terbuka dilobang tanah tanpa pengampengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh. Masih ada Pemerintah daerah yang menerapkan cara ini karena alas an keterbatasan dana dan SDM.
Cara seperti ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkannya seperti :
- Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus, kucing
- Polusi udara oleh bau dan gas bahkan dapat menimbulkan pemanasan global
- Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan) hasil proses dekomposisi sampah
- Segi estetika pemandangan yang tidak nyaman
- Apabila ada tiupan angin sampah beterbangan.
- Pencemaran tanah
b. sanitary landfill Cara ini merupakan pengembangan dari model open dumping, secara periodik sampah yang telah masuk ke lobang ditutup dengan tanah setebal 10 cm agar tidak bisa terjangkau oleh hewan, binatang pengganggu lainnya (lalat, kecoa, tikus dan lain-lain), yang dalam operasionalnya dilakukan perataan dan pemadatan dengan menggunakan alat berat untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan di TPA.
K. Pengawasan Vektor dan Tikus di Pariwisata Cagar Alam
Vektor telah menjadi faktor penularan penyakit yang bersifat masif (luas). Contohnya adalah adanya Kejadian Luar Biasa Penyakit malaria yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles, penyakit Demam Berdarah dengue yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti, untuk itulah maka vektor harus dikendalikan. Pengendalian vektor dapat dilakukan secara kimiawi, fisik dan biologi. Pengendalian secara kimiawi contohnya adalah melakukan pengendalian vektor dengan menggunakan bahan pestisida, namun dalam penggunaannya harus memperhatikan faktor lingkungan. Pengendalian vektor secara fisik contohnya perbaikan irigasi yang bertujuan tidak dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk anopheles. Sedangkan pengendalian secara biologi yaitu dengan menggunakan predator seperti menebar ikan ditempat tempat yang menjadi perkembangbiakan nyamuk. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) merupakan pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan azas keamanan, rasionalitas, dan efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya. Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis, penggunaan agen biotik, kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan/atau perubahan perilaku masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal sebagai alternatif.