28 Maret 2025

Apa Itu SAP ? pengertian, jenis, dan kegunaan SAP

Pengertian SAP
SAP (System Application and Product in Data Processing) adalah perangkat lunak manajemen sumber daya perusahaan (ERP) yang dikembangkan oleh SAP SE, sebuah perusahaan Jerman. SAP adalah sistem yang terintegrasi yang membantu perusahaan mengelola berbagai aspek operasional, seperti keuangan, sumber daya manusia, produksi, dan logistik.

bisnis tradisional sering kali mendesentralisasikan pengelolaan data, dengan masing-masing fungsi bisnis menyimpan data operasionalnya sendiri dalam basis data terpisah. Hal ini menyulitkan karyawan dari berbagai fungsi bisnis untuk mengakses informasi satu sama lain. Lebih jauh lagi, duplikasi data di beberapa departemen meningkatkan biaya penyimpanan TI dan risiko kesalahan data.

Dengan memusatkan pengelolaan data, perangkat lunak SAP menyediakan berbagai fungsi bisnis dengan satu tampilan akurat. Hal ini membantu perusahaan mengelola proses bisnis yang kompleks dengan lebih baik dengan memberikan karyawan dari berbagai departemen akses mudah ke database waktu nyata di seluruh perusahaan. Hasilnya, bisnis dapat mempercepat alur kerja, meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan produktivitas, menyempurnakan pengalaman pelanggan —dan pada akhirnya meningkatkan laba.

SAP sendiri terintegrasi di berbagai bidang yaitu sebagai berikut: 

  • Sales and Distribution

Modul ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dalam proses penjualan dan distribusi. Beberapa fungsinya mencakup manajemen prospek dan pelanggan, pengelolaan pesanan penjualan, konfigurasi produk, distribusi, pengendalian ekspor, manajemen pengiriman dan transportasi, serta penagihan, faktur, dan pemrosesan rabat.

  • Material Management

Modul ini berperan dalam mengoptimalkan proses pengadaan serta pengelolaan inventaris perusahaan untuk memastikan ketersediaan bahan secara efisien.

  • Production Planning

Bertanggung jawab dalam perencanaan dan pengawasan produksi guna memastikan proses produksi berjalan sesuai target dan kebutuhan perusahaan.

  • Quality Management

Dalam rantai pasokan, modul ini digunakan untuk melakukan kontrol kualitas terhadap barang hasil produksi guna memastikan standar mutu yang ditetapkan.

  • Plant Maintenance

Modul ini membantu dalam pemeliharaan fasilitas dan peralatan operasional guna menjaga kelangsungan produksi serta mengurangi risiko gangguan operasional.

  • Human Resources

Digunakan untuk mengelola berbagai aspek sumber daya manusia, termasuk proses rekrutmen, administrasi pegawai, manajemen waktu kerja, hingga penggajian karyawan secara otomatis dan terintegrasi.

  • Financial Accounting

Modul ini mencakup seluruh aspek keuangan dan perbendaharaan perusahaan. Setiap transaksi keuangan yang masuk dan keluar tercatat secara otomatis, memungkinkan proses pemantauan yang lebih mudah dan akurat.

SAP memiliki beberapa fungsi utama, yaitu:

1. *Manajemen Keuangan*: SAP membantu perusahaan mengelola keuangan, seperti akuntansi, anggaran, dan perencanaan keuangan.
2. *Manajemen Sumber Daya Manusia*: SAP membantu perusahaan mengelola sumber daya manusia, seperti pengelolaan karyawan, pengembangan karyawan, dan pengelolaan gaji.
3. *Manajemen Produksi*: SAP membantu perusahaan mengelola produksi, seperti perencanaan produksi, pengelolaan bahan baku, dan pengelolaan kualitas produk.
4. *Manajemen Logistik*: SAP membantu perusahaan mengelola logistik, seperti pengelolaan persediaan, pengelolaan transportasi, dan pengelolaan gudang.
5. *Analisis dan Pelaporan*: SAP membantu perusahaan menganalisis dan melaporkan data, seperti analisis keuangan, analisis operasional, dan pelaporan manajemen.

Jenis SAP
SAP memiliki beberapa jenis, yaitu:

1. *SAP ERP*: Sistem ERP yang terintegrasi untuk mengelola berbagai aspek operasional perusahaan.
2. *SAP CRM*: Sistem manajemen hubungan pelanggan untuk mengelola interaksi dengan pelanggan.
3. *SAP SCM*: Sistem manajemen rantai pasokan untuk mengelola proses logistik dan produksi.
4. *SAP PLM*: Sistem manajemen siklus hidup produk untuk mengelola proses pengembangan produk.
5. *SAP HANA*: Sistem manajemen basis data untuk mengelola data dan melakukan analisis.

Dalam kesimpulan, SAP adalah sistem ERP yang terintegrasi yang membantu perusahaan mengelola berbagai aspek operasional. SAP memiliki beberapa fungsi utama, seperti manajemen keuangan, manajemen sumber daya manusia, manajemen produksi, dan manajemen logistik. SAP juga memiliki beberapa jenis, seperti SAP ERP, SAP CRM, SAP SCM, SAP PLM, dan SAP HANA.

16 September 2024

3 contoh pidato tentang kebersihan lingkungan

 

sumber : www.pexels.com

Contoh Pidato tentang Kebersihan Lingkungan (1)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati dan teman-temanku yang baik hati,

setiap hari, saya datang kekantor. Tetapi, ada hal luar biasa yang saya rasakan. Begitu masuk lingkungan kantor, perasaan saya menjadi tenang dan senang. Mengapa? karena Taman-taman diatur bagus dengan bunga aneka warna bermekaran. Demikian juga tembok dan lantai bangunan sangat bersih. Barang-barang dan perabot berada di tempatnya dan tersusun rapi. 

Mengapa di lingkungan yang kotor kita sulit mempertahankan kesehatan? Itu disebabkan memang ada hubungan yang erat antara kebersihan dan kesehatan. Bersih pangkal sehat, kata orang bijak. Makin bersih diri dan lingkungan kita, makin besar kemungkinan kita menjadi sehat. Sebaliknya, semakin kotor dan makin banyak sampah di lingkungan kita, semakin kecil kemungkinan kita menjadi sehat.

Hal itu memang masuk akal sebab sampah selain menimbulkan pemandangan menjijikkan, menimbulkan bau tak sedap, dan juga menjadi sarang penyakit. Bibit-bibit penyakit yang bersarang di dalam sampah itu mengancam kesehatan kita. Makin banyak sampah di sekitar kita, makin banyak bibit penyakit bersarang. Makin banyak bibit penyakit di sekitar kita, makin besar ancaman terhadap kesehatan kita. Jika daya tahan tubuh kita tidak kuat, kita akan mudah jatuh sakit. Beruntung, jika sakitnya ringan-ringan saja seperti sakit flu. Bagaimana jika sakitnya tergolong berat? Kita harus mengeluarkan dana yang amat besar untuk menyembuhkannya.

Jadi, kita harus punya kesadaran untuk berperilaku bersih. Kita harus ikhlas menjaga kebersihan lingkungan. Kita buang sampah di tempatnya. Kita jaga taman di sekitar kita dengan tidak menerobos melewatinya, menginjak rumputnya, dan memetik bunganya. Dengan cara seperti itu, lingkungan kita tetap bersih dan keadaan taman tetap rapi dan indah.

Oleh karena itu, mari kita bulatkan tekad untuk memulai hidup bersih. Kita buang sampah di tempatnya. Kita jaga keindahan lingkungan kita. Semuanya itu akan terasa mudah dan ringan jika kita semua melakukannya. Hasilnya pun dapat segera kita rasakan. Lingkungan kita menjadi bersih dan indah. Dalam lingkungan seperti itu, kita dapat menikmati hidup sehat dan nyaman.

Sekian, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Pidato tentang Kebersihan Lingkungan (2)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati dan teman-temanku yang baik hati,

Mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan karunia-Nya, hari ini. kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat walafiat. 

Kebersihan termasuk hal penting untuk menciptakan kesehatan lingkungan. Kebersihan juga berperan penting untuk mewujudkan lingkungan yang nyaman dan indah. Jika berada di lingkungan kumuh, pasti orang enggan berlama-lama di sana. Begitu pula dengan lingkungan kantor kita. Kebersihan kantor harus dijaga agar tetap bersih dan nyaman demi keberhasilan proses dalam melaksanakan pekerjaan. Bagaimana bapak bapak / ibu ibu dapat menjalankan tugasnya dengan tenang jika kondisi kantor kotor dan tidak nyaman? Apalagi jika kamar mandi kantor jorok dan bau.

Teman-teman yang saya cintai

Ada beberapa manfaat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan kantor. Pertama, kebersihan lingkungan kantor menambah semangat kerja. jika ruangan kita yang bersih dan tertata baik, mampu membangkitkan motivasi bekerja sehingga mereka lebih semangat dalam bekerja.

Kedua, kebersihan lingkungan kantor menjadi keunggulan perusahaan. Keunggulan ini tentu akan menjadi rujukan tersendiri bagi divisi lain. sehingga kantor yang bersih dan nyaman tentu dapat menjadi contoh kandor divisi lain.

Ketiga, kebersihan lingkungan kantor dapat mencegah berjangkitnya berbagai penyakit. Sebagai contoh, jika air di kamar mandi kantor dipenuhi jentik nyamuk, kemungkinan besar siswa di kantor dapat terkena penyakit, terutama demam berdarah. Dengan demikian, kebersihan fasilitas di lingkungan kantor merupakan keharusan.

Teman-teman yang saya cintai,

Tuhan sangat menyukai keindahan dan kebersihan, termasuk menyukai orang yang suka menjaga kebersihan. Jadi, kita selaku makhluk Tuhan, semestinya mampu menjaga kebersihan, khususnya di kantor kita tercinta ini. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini mari kita bersama-sama saling bekerja sama dalam membersihkan lingkungan kantor kita. Kita bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kantor yang bersih dan indah.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan lingkungan kantor yang bersih? Caranya dengan disiplin diri. Kita disiplinkan diri masing-masing untuk serius menjaga kebersihan kantor. Realisasinya misalnya dengan membuang sampah selalu ke tempat sampah. Kemudian, selalu menyiram kamar mandi/WC dengan sempurna setelah buang air kecil maupun besar. Selanjutnya, jika melihat sampah tercecer, kita bersedia memungut dan membuangnya ke tempat sampah.

Sekali lagi, saya mengimbau hadirin, mari kita bersama-sama menjadikan kantor kita tercinta ini selalu bersih dan nyaman. Mari, kita mulai sekarang, saat ini juga! Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya, saya mohon maaf jika ada kesalahan dan kekurangan.

Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Pidato tentang Kebersihan Lingkungan (3)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kesempatan yang baik ini marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang mana telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga bisa berkumpul dalam keadaan sehat pada hari ini.

Hadirin yang saya hormati,

Pidato yang saya sampaikan ini akan menerangkan menjaga kebersihan. Allah SWT pada hakikatnya menyayangi orang yang menjaga kebersihan alam sebagai peninggalan darinya.

Hadirin sekalian,

Jika kita menjaga kebersihan lalu ditiru oleh anak-anak kita dan orang-orang dekat kita maka kita pun akan mendapat manfaatnya. Oleh karenanya, mari ajarkan sedini mungkin terhadap anak-anak tentang pentingnya menjaga kebersihan agar kelak mereka menjadi anak yang sehat, cerdas dan suka berbuat kebaikan.

Dengan mengajarkan menjaga kebersihan kepada anak-anak, diharapkan mereka bisa mandiri dan terbiasa mengatasi hal-hal yang sulit untuk diselesaikan, seperti kita ketahui di masa sekarang masih banyak orang-orang yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan dan membiarkannya menjadi kotor.

Demikianlah pidato singkat yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan apa yang sudah saya sampaikan bermanfaat dan dapat dilaksanakan. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

14 September 2024

PERSYARATAN KESEHATAN PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN

sumber : homecare24.id

Kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman adalah kondisi fisik, kimia, dan biologi di dalam rumah, di lingkungan rumah dan perumahan, sehingga memungkinkan penghuni mendapatkan derajat kesehatan yang optimal. Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukinan adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan dan/atau masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan. Persyaratan kesehatan perumahan yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman serta persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan karena pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat (Sanropie, 1992).


Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter sebagai berikut : 

1. Lokasi

  1. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa, dan sebagainya; 
  2. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau bekas tambang;
  3. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur pendaratan penerbangan.

2. Kualitas udara

Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan sebagai berikut :

  1. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi;
  2. Debu dengan diameter kurang dari 10  g maksimum 150  g/m3;
  3. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm;

3. Kebisingan dan getaran

  1. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A;
  2. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik .

4. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman

  1. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
  2. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
  3. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
  4. Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1 mg/kg

5. Prasarana dan sarana lingkungan

  1. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi yang aman dari kecelakaan;
  2. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit;
  3. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan jalan tidak menyilaukan mata
  4. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas
  5. air yang memenuhi persyaratan kesehatan;
  6. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga
  7. harus memenuhi persyaratan kesehatan;
  8. Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi syarat kesehatan;
  9. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain sebagainya;
  10. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan.

6. Vektor penyakit

  1. Indeks lalat harus memenuhi syarat;
  2. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.


06 Maret 2024

sanitasi wisata jagar alam : pengawasan kualiatas air, kontruksi bangunan, sarana prasarana, pengolahan limbah dan sampah dan pengendalian vektor pembawa penyakit

sumber gambar : unsplash.com

A. Pengawasan Kualitas Air di Sarana Pariwisata Cagar Alam

Perjalanan wisata dapat mempermudah terjadinya penularan penyakit, Akses manusia terhadap perjalanan ini dapat mendatangkan masalah apabila kawasan asal dan kawasan tujuan tidak memenuhi standar hygiene dan sanitasi, utamanya air bersih. Salah satu risikonya adalah potensi terjadinya kontaminasi terhadap air. Contoh : Wisatawan makan di rumah makan di sekitar tempat wisata. Apabila air yang digunakan terkontaminasi oleh kuman pathogen maka wisatawan tersebut dapat menderita penyakit, perut, diare, atau penyakit yang lain. Ketersediaan air bersih. Apabila masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan air bersih maka dapat dipastikan tingkat kesehatannya akan meningkat dibandingkan dengan masyarakat yang ketersediaan airnya terbatas. Oleh karena itu akan dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

B. Jalur Transmisi Infeksi Terkait dengan Kualitas Air Cagar Alam

Air dapat menimbulkan dan menularkan penyakit pada pengunjung, penghuni di, pariwisata cagar alam. jalur transmisi infeksi yang terkait dengan air yaitu :

Transmisi Infeksi oleh Vektor Insekta yang terkait Air (Water-related Insect Vector). Hal ini penting untuk Anda perhatikan karena demikian mudah air tercemar. Transmisi ini terjadi karena vektor nyamuk menularkan parasit ke dalam tubuh terutama karena manusia berada disekitar lingkungan air yang ada di sarana pariwisata cagar alam. Beberapa penyakit infeksi vektor yang perlu diwaspadai adalah demam berdarah, filariasis dan malaria.

a. Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti ini nyamuk. Nyamuk ini juga suka bertelur dan berkembang biak di genangan air, bak mandi yang ada dilingkungan pariwisata cagar alam. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan demi terhindar dari penyakit demam berdarah. Dan hal utama yang terlebih dahulu kita lakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan, agar tidak ada genangan air yang bisa dijadikan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk, Menguras tempat air yang selalu di gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, agar tidak ada telur ataupun jentik nyamuk, mengubur dan membuang sampah dengan benar agar tidak ada tempat untuk perkembangbiakan nyamuk. Langkah-langkah tersebut adalah beberapa kegiatan sederhana yang justru memiliki peran penting dalam mencegah dan menghindari penyakit demam berdarah.

b. Filariasis

Filariasis merupakan penyakit infeksi oleh parasit cacing Filaria dan Wuchereria bancrofti yang ditularkan melalui culex. Nyamuk culex banyak ditemukan di Indonesia, penularan terjadi ketika nyamuk mengisap darah sambil melepas bentuk infektif parasit yang akan berkembang melalui beberapa stadia. Cacing filarial dewasa ayang berada di dalam tubuh akan menyumbat saluran limfe dan menyebabkan bendungan aliran limfe dengan akibat pembengkakan organ tubuh dan berakhir dengan cacat.

c. Malaria

Malaria berkembang terkait dengan tempat perindukan nyamuk Anopheles di air yang tergenang dan merupakan penyakit endemic dibeberapa Negara berkembang. Malaria menjadi penyebab utama kematian. Penyakit ini ditandai dengan nyeri otot dan sendi, demam tinggi disertai menggigil, nyeri kepala, mungkin juga disertai diare dan muntah.

C. Penyehatan Lingkungan Bangunan di Pariwisata Cagar Alam Lingkungan Bangunan

  1. Lingkungan bangunan bebas dari banjir, jika ada di daerah banjir perlu menyediakan peralatan atau teknologi untuk mengatasinya.
  2. Lingkungan transportasi dan pariwisata wajib menyelenggarakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) namun juga perlu menyediakan tempat khusus untuk merokok.

Syarat-syarat tempat khusus merokok adalah :

  1. Ruang terbuka atau ruang yang berhubungan langsung dengan udara uar sehingga udara dapat bersikulasi dengan baik
  2. Terpisah dari gedung/tempat/ruang lain yang dilakukan untuk beraktivitas
  3. Jauh dari pintu masuk dan keluar
  4. Jauh dari tempat orang berlalu lalang
  5. Diberi simbol tempat khusus untuk merokok
  6. Luas lahan bangunan dan halaman wajib disesuaikan dengan luas lahan secara keseluruhan, sehingga tersedia tempat parkir dan rambu rambu yang memadai.
  7. Lingkungan transportasi, pariwisata dan matra harus tidak becek, tidak terdapat genangan air yang akan memicu terjadinya perkembangbiakan nyamuk, saluran dalam keadaan tertutup menyesuaikan luas halaman.
  8. Lingkungan bangunan diluar harus dilengkapi dengan penerangan dengan yang cukup.
  9. Lingkungan ruang bangunan dan halaman harus selalu dalam keadaan bersih dan tersedia fasilitas sanitasi secara kuantitas dan kualitas yang memenuhi syarat kesehatan sehingga tidak menimbulkan tempat bersarangnya dan berkembangbiaknya serangga, binatang pengerat dan binatang pengganggu lainnya.
  10. Lingkungan transportasi,pariwisata dan matra harus mempunyai batas yang jelas, dapat dilengkapi dengan pagar.
  11. Di area parkir (luar)dan halaman luar

    • Disediakan tempat sampah
    • Rambu-rambu jalan (masuk dan keluar kendaraan), titik kumpul dan lain-lain
    • Penghijauan
    • Terdapat bak sampah dengan minimal 1 buah radius 20m
    • Bersih
    • Tidak becek dan tidak berdebu
    • Ruang tunggu dan tempat tempat tertentu yang menghasilkan sampah harus disediakan tempat sampah.

D.  Konstruksi Bangunan Pariwisata Cagar Alam

a. Lantai

  1. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, warna terang, mudah dibersihkan,
  2. Lantai yang selalu kontak dengan air perlu mempunyai kemiringan yang cukup 1-2% kearah saluran pembuangan air limbah sehingga tidak terjadi genangan.
  3. Pertemuan lantai dengan dinding berbentuk konus/lengkung sehingga mudah untuk dibersihkan.

b. Dinding

Permukaan dinding kuat, rata, berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat

c. Ventilasi 

Ventilasi merupakan proses untuk memasukkan udara segar ke dalam bangunan gedung dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Pembuatan ventilasi pada bangunan-bangunan Hunian, dimana ventilasi tersebut mempunyai banyak fungsi :

  1. Untuk menjaga agar aliran udara di dalam ruangan tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni tersebut tetap terjaga,
  2. Untuk menjaga agar ruangan selalu tetap didalam kelembaban (humudity) yang optimum.

Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam ruangan yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadi proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit).

d. Atap 

Fungsi utama atap yakni untuk melindungi gedung dari perubahan cuaca baik panas, hujan, salju, petir, angin, debu, dan sebagainya. Atap juga memiliki fungsi proteksi untuk menutupi ruangan yang berada di bawahnya, menahan radiasi panas yang berlebihan, mencegah tampias hujan, dan mengurangi pergerakan angin. Pada perkembangannya, atap pun mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi estetika suatu bangunan.

Agar atap berfungsi dengan baik maka :

  1. Atap harus kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat perindukan serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya.
  2. Atap yang lebih dari 10 meter dari tanah perlu dilengkapi dengan penangkal petir.

E.  Pengawasan Kualitas Air Limbah di Pariwisata Cagar Alam

Limbah cair dan feces merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya kehidupan manusia di sarana transportasi pariwisata cagar alam. Limbah cair lain dihasilkan dari air hujan sebagai salah satu komponen limbah cair yang timbul secara alamiah dari aktivitas alam. Limbah cair dan feces timbul sebagai akibat dari adanya kehidupan manusia sebagai makluk individu dan makluk sosial.

Air limbah terdiri dari 3 fraksi penting yaitu :

  1. Feces
  2. Air seni
  3. Gree water (air dari kamar mandi, cucian dapur, cucian baju, cucian kendaraan).

Limbah cair dan feces di pariwisata cagar alam apabila tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan beberapa hal sebagai berikut.

  1. Pencemaran badan air, sungai atau telaga yang dapat menimbulkan kematian ikan. Contoh: saluran pembuangan air limbah dari warung yang mengandung banyak senyawa organik banyak akan nutrient sehingga terjadi pertumbuhan algae yang cepat atau sering disebut algae bloom. Algae atau tumbuhan menutup permukaan air sehingga tumbuhan yang ada di bawah tidak dapat melakukan proses fotosintesis sehingga kandungan O2 berkurang. Ikan dan makhluk hidup lainnya memerlukan O2 untuk bernafas, akan mati karena O2 berkurang.
  2. Mencemari air tanah sehingga air tidak layak untuk dikonsumsi.

Banyak contoh dari lalainya kita bersama dalam mengelola limbah, sehingga sering terjadi peristiwa banjir karena sistem saluran buangan limbah cair dan air hujan tidak dirawat sebagaimana mestinya. Hal ini akan mengakibatkan sumbatan-sumbatan endapan lumpur karena kurang perawatan. Limbah cair yang tertahan atau tergenang dilokasi tertentu dalam waktu yang relatif lama dapat menjadikan sarang perkembangbiakan nyamuk, vektor penyakit, malaria, demam berdarah, filariasis dan lain lain.

F. Prosedur Pembuangan Air Limbah pada Sarana Pariwisata Cagar Alam

Penanganan limbah cair meliputi berbagai proses, yakni penyaluran, pengumpulan, pengolahan limbah cair, serta pembuangan lumpur yang dihasilkan.

1. Tahap Penanganan, Proses Penyaluran dan Pengumpulan Proses ini meliputi sistem perpipaan, sistem penyambungan pipa kesaluran pengumpul, sistem penyaluran limbah cair dan kelengkapannya, seperti lubang pemeriksaan (manhole) serta pemompaan. Penyaluran dan pengumpulan limbah cair disalurkan dari berbagai sumber (warung, kamar mandi, perkantoran, dapur, wastafel) di sarana transportasi, pariwisata dan matra melalui saluran yang kedap air, bahan yang kuat dan tertutup.

2. Tahap Pengolahan Tahap pengolahan yang dimulai dari tahap pengolahan pendahuluan (pretreatment atau preliminary treatment) pengolahan tahap pertama (primary treatment), Pengolahan tahap kedua (secondary treatment), pengolahan tahap ketiga (tertiary treatment), dan pengolahan penanganan lumpur (sludge disposal). 

G. Pengawasan Kualitas Toilet di Pariwisata Cagar Alam

toilet merupakan tempat yang potensial sebagai sarana penyebaran penyakit bila sanitasi dan higiene-nya tidak dipelihara dengan baik. Toilet umum bukan sekadar tempat membuang hajat semata, tapi sudah menyangkut banyak aspek. Antara lain aspek psikologis pengguna, aspek kesehatan dan keamanan pengguna, pemeliharaan dan lingkungan, hingga aspek estetika. Keberadaannya dengan standar tertentu merupakan suatu hal yang sangat penting. Sebab, toilet umum yang baik bisa menggambarkan budaya sebuah negara.

H. Kriteria atau Kelengkapan Ruang Toilet Umum yang Memenuhi Syarat Kesehatan

Toilet merupakan kebutuhan pokok manusia. Diperlukan kesadaran dari berbagai pihak untuk menjaga kebersihan toilet. Banyak penyakit yang bisa ditimbulkan akibat toilet kotor, seperti diare, infeksi saluran pernapasan, tifus, dan infeksi saluran kencing.

  1. Air Bersih Salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam toilet adalah air bersih dengan jumlah yang cukup beserta gayung. Apalagi budaya Indonesia yang masih sangat mengandalkan air untuk membersihkan diri.
  2. Kloset yang Bersih Kloset duduk maupun jongkok yang bersih dan tidak berbau juga menjadi syarat sehat toilet. Idealnya kloset dibersihkan secara teratur setelah 3 (tiga) kali pakai. Dengan begitu maka kloset akan selalu terjaga kebersihan dan kehigienisannya.
  3. Ventilasi dan Pencahayaan yang Cukup Ventilasi dan pencahayaan yang cukup akan membuat toilet tidak lembap, karena toilet yang lembap akan menjadi saran kuman. Kuman akan terus berkembang biak di tempat yang lembap. Hal tersebut tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan. Toilet yang baik mempunyai kelembaban 40 - 50 %, dengan taraf pergantian udara yang baik yaitu mencapai angka 15 air-change per jam (dengan suhu normal toilet 20-27 derajat celcius).
  4. 4. Sistem pencahayaan toilet umum dapat menggunakan pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Iluminasi standar 100 - 200 lux.
  5. Konstruksi Bangunan Toilet Umum

    • Lantai toilet, kemiringan minimum lantai 1 % dari panjang atau lebar lantai.
    • Dinding, ubin keramik yang dipasang sebagai pelapis dinding, gypsum tahan air atau bata dengan lapisan tahan air.
    • Langit-langit, terbuat dari lembaran yang cukup kaku dan rangka yang kuat sehingga memudahkan perawatan dan tidak kotor
    • Kondisi Toilet Upayakan Tetap Kering Selalu usahakan dinding dan lantai toilet tetap kering. Selain mencegah kuman berkembang biak, lantai yang kering juga menjamin keselamatan pengguna toilet.
    • Tempat sampah
    • Dilengkapi dengan sabun

Selanjutnya perlu dilengkapi tempat cuci tangan dengan syarat

    • a. Wastafel dalam kondisi bersih tidak ada rambut
    • b. Air tidak berbau dan tidak berwarna dan jumlah cukup
    • c. dilengkapi dengan sabun atau pembersih

I. Pengawasan Kualitas Udara dan Pengelolaan Sampah di Pariwisata Cagar Alam

Dengan meningkatnya sarana transportasi dan perkembangan pariwisata, Industri kualitas udara mengalami perubahan. Beberapa gas seperti SO2, H2S, dan CO selalu dibebaskan ke udara sebagai produk sampingan dari proses alami seperti pembusukan sampah, air limbah baik di sarana pariwisata cagar alam, Selain itu partikel-partikel padatan atau cairan berukuran kecil dapat tersebar di udara oleh angin.

J. Pengawasan Pengelolaan Sampah di Pariwisata Cagar Alam

Sampah merupakan bahan buangan padat yang sudah tidak dipakai lagi akibat dari aktivitas di pariwisata cagar alam. Besarnya sampah yang dihasilkan sebanding dengan jumlah pengunjung dan juga penghuni. Semakin besar jumlah pengunjung dan penghuni maka semakin besar pula volume sampah yang dihasilkan.

Secara umum pembuangan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan :

  1. Banjir
  2. Tempat berkembangbiaknya dan sarang dari serangga
  3. Dapat menjadi pengotoran tanah, sampah anorganik tidak terdegradasi akan membuat kesuburan tanah menurun, bahkan menyebabkan tanah tandus.
  4. Menyebabkan pencemaran air dan udara
  5. Sumber dan tempat hidup dari kuman-kuman yang membahayakan kesehatan manusia.

 Adapun proses lengkap tahapan pengelolaan sampah dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

1. Timbulan Sampah Banyaknya sampah yang timbul dari aktivitas manusia yang ada di pariwisata cagar alam. Timbulan (sumber) sampah ini merupakan tahap pengelolaan pertama di mana barang-barang sudah tidak diperlukan lagi oleh pemiliknya sehingga tidak mempunyai nilai apa-apa dan dibuang. Pada aktivitas di pariwisata banyak ditemukan sampah dengan komposisi bervariasi diantara plastik, kaleng, kayu dan, yang lain.

2. Pewadahan Sampah Menampung sampah merupakan tahap ke dua dalam pengelolaan sampah. Pewadahan sampah adalah menampung sampah sementara dalam suatu wadah ditempat sumber sampah. Pola pewadahan di , pariwisata cagar alam

a. Level-1 : wadah sampah yang sering disebut TPS yang menampung sampah langsung dari sumbernya. diletakkan dekat dengan sumbernya dan terlihat oleh sipemakai, misalnya diletakkan dipinggir jalan tempat wisata dsb. Wadah sampah jenis ini adalah tidak berat, mudah dikosongkan tertutup dan sampahnya mudah dibawa ke wadah sampah level-2. Volume sampah 50 – 60 liter , wadah sampah /tong yang ada roda 120 – 140 liter peletakkannya dengan jarak 10 meter antara TPS yang satu dengan yang lain untuk yang bearda di ruangan, untuk yang berada dliluar ruangan jaraknya 20 meter. Pola pewadahan sampah pada level 1 disediakan 2 sampai 3 wadah dalam setiap titik lokasi. Untuk memudahkan dan ketepatan dalam membuang sampah maka diperlukan symbol tanda pada setiap bak sampah. Periode pemindahan sampah tergantung dari dari komposisi sampah, semakin bersar prosentase organik, semakin kecil periode pelayanannya contoh sampah dari warung ditempat wisata karena banyak sampah basah sisa makanan maka 0,5 – 1 hari sekali, di kumpulkan di bak sampah level 2, namun sampah perkantoran 1 – 3 hari.

b. Level-2: bersifat sebagai pengumpul sementara, merupakan wadah yang menampung sampah dari wadah level -1 maupun langsung dari sumbernya. Wadah sampah level-2 ini diletakkan di tepi jalan yang mudah dilihat berfungsi sebagai titik temu antara sumber sampah dan sistem pengumpul, maka guna kemudahan dalam pemindahannya. Volume lebih besar dari bak sampah level- 2. Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi khusus dan ditempatkan sesuai dengan sistem pengangkutan sampahnya. Mengingat bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah tersebut, maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: kuat dan tahan terhadap korosi, kedap air, tidak mengeluarkan bau, tidak dapat dimasuki serangga dan binatang, serta kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung. Di beberapa tempat pariwisata dan tranportasi yang ada diperkotaan beberapa disediakan oleh Dinas Pekerjaan umum berupa Container truk besar dengan Volume 6m3 – 10m3

3. Pemindahan Pemindahan sampah merupakan tahapan untuk memindah sampah dari wadah level 1 di pindahkan dengan alat angkut manusia atau dengan mekanik ke wadah level 2 , Periode pemindahan sampah tergantung dari dari komposisi sampah, semakin besar prosentase organik, semakin kecil periode pelayanannya contoh sampah dari warung ditempat wisata karena banyak sampah basah sisa makanan maka 0,5 – 1 hari sekali, di kumpulkan di bak sampah level 2, namun sampah perkantoran 1 – 3 hari. Pemindahan dari level II ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA), karena lokasi cukup jauh menggunakan truck, untuk wadah level II yang menggunakan container pengangkutan menggunakan truck dilakukan secara mekanik (load Haul). Periode pemindahan sampah di TPS ini 1 hari sekali.

4. Transportasi (Pengangkutan) Transportasi (pengangkutan) dilakukan pada pewadahan level I diangkut ke pewadahana level II, alat angkut di transportasi, pariwisata dan matra umumnya mengunakan tenaga manusia yaitu menggunakan gerobak namun juga ada yang menggunakan tenaga motor yang diberi bak. Pengangkutan dari pewadahan level II, sampah diangkut di tempat pembuangan kahir (TPA), menggunakan tenaga mekanik berupa truk.

5. Pemilahan dan Pengolahan Anda mahasiswa, sudahkah Anda melakukan pemilihan sampah dan mengolahnya dirumah atau ditempat kerja? Berikut ini kita simak bersama terkait dengan pemilahan dan pengolahan sampah yang dapat bernilai ekonomi. Sampah sebelum di angkut di buang di TPA perlu dilakukan pemilahan dan pengolahan terlebih dahulu hal ini dilakukan pada setiap level pewadahan, tujuan pemilahan untuk mengurangi volume sampah yang akan dibuang di tempat pembuangan akhir sampah dan memanfaatkan kembali dan mengolah sampah menjadi nilai ekonomi. Pengolahan sampah tergantung dari komposisi sampah, berbagai alternatif yang dapat dilakukan dalam pengolahan sampah, diantaranya:

a. Transformasi fisik sampah Transformasi fisik meliputi pemisahan komponen sampah (sorting) dan pemadatan (compacting) dengan tujuan memudhkan penyimpanan dan pengangkutan.

b. Pembuatan kompos Kompos adalah pupuk alami terbuat dari bahan-bahan hijauan dan bahan organik lain contohnya kotoran hewan yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses derkomposisi sampah. Pengolahan sampah menjadi kompos merupakan proses mikrobiologi dan berjalan secara aerobic dan aerobik yang saling menunjang. Saat pengomposan terjadi perombakan bahan organik menjadi komponen lebih sederhana dan stabil dalam larutan terbentuk ionic dan diserap oleh tumbuhan. Proses pengomposan ini srcara garis besar disebut dekomposisi dan terbentuk dalam kurun waktu 30-90 hari. Tidak semua jenis sampah bisa dijadikan bahan dalam pembuatan kompos. Jenis yang dipakai adalah sampah organik yang mudah sekali membusuk atau garbage. Pemilahan dan penyeleksianpun menjadi penting dalam pengolahan sampah menjadi kompos.

6. Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA)

7. Anda mahasiswa TPA merupakan tahap akhir dari pengelolaan sampah, apakah di tempat Anda bekerja ada tempat pembuangan akhir sampah ? mari kita bahas bersama terkait dengan pembuangan akhir sampah. TPA merupakan tempat akhir sampah yang diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya dan kesehatan masyarakat, oleh karena itu diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik. Di TPA, sampah masih mengalami proses penguraian secara alamiah oleh bakteri. Sampah organik dapat terurai lebih cepat contohnya sisa makanan, sayuran kulit buah, sementara yang lain lebih lambat misalnya kertas, kayu, daun kering ; bahkan ada beberapa jenis sampah yang tidak berubah sampai puluhan tahun; misalnya plastik, sterofoam hal ini memberikan gambaran bahwa setelah TPA selesai digunakanpun masih ada proses yang berlangsung dan menghasilkan beberapa zat yang dapat mengganggu lingkungan. Karenanya masih diperlukan pengawasan terhadap TPA yang telah pebuh dan di tutup. 

Ada Beberapa metode pembuangan sampah antara lain:

a. Open dumping Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada satu lokasi, dibiarkan terbuka dilobang tanah tanpa pengampengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh. Masih ada Pemerintah daerah yang menerapkan cara ini karena alas an keterbatasan dana dan SDM.

Cara seperti ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkannya seperti :

  1. Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus, kucing
  2. Polusi udara oleh bau dan gas bahkan dapat menimbulkan pemanasan global
  3. Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan) hasil proses dekomposisi sampah
  4. Segi estetika pemandangan yang tidak nyaman
  5. Apabila ada tiupan angin sampah beterbangan.
  6. Pencemaran tanah

b. sanitary landfill Cara ini merupakan pengembangan dari model open dumping, secara periodik sampah yang telah masuk ke lobang ditutup dengan tanah setebal 10 cm agar tidak bisa terjangkau oleh hewan, binatang pengganggu lainnya (lalat, kecoa, tikus dan lain-lain), yang dalam operasionalnya dilakukan perataan dan pemadatan dengan menggunakan alat berat untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan di TPA.

K. Pengawasan Vektor dan Tikus di Pariwisata Cagar Alam

Vektor telah menjadi faktor penularan penyakit yang bersifat masif (luas). Contohnya adalah adanya Kejadian Luar Biasa Penyakit malaria yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles, penyakit Demam Berdarah dengue yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti, untuk itulah maka vektor harus dikendalikan. Pengendalian vektor dapat dilakukan secara kimiawi, fisik dan biologi. Pengendalian secara kimiawi contohnya adalah melakukan pengendalian vektor dengan menggunakan bahan pestisida, namun dalam penggunaannya harus memperhatikan faktor lingkungan. Pengendalian vektor secara fisik contohnya perbaikan irigasi yang bertujuan tidak dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk anopheles. Sedangkan pengendalian secara biologi yaitu dengan menggunakan predator seperti menebar ikan ditempat tempat yang menjadi perkembangbiakan nyamuk. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) merupakan pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan azas keamanan, rasionalitas, dan efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya. Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis, penggunaan agen biotik, kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan/atau perubahan perilaku masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal sebagai alternatif.


04 Maret 2024

pengertian dan jenis jenis tempat wisata

 A. Pengertian Pariwisata

sumber gambar : unsplash.com

Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang kunjungi dalam jangka waktu sementara. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan pariwisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah.

B. Jenis – Jenis Pariwisata

Jenis-jenis wisata adalah sebagai berikut :

1. Wisata Budaya

Ini dimaksudkan agar perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan, untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat, cara hidup, budaya dan seni pada masyarakat daerah yang bersangkutan.

2. Wisata Kesehatan

Hal ini dimaksudkan perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan lingkungan tempat sehari-hari di mana ia tinggal demi kepentingan beristirahat alam arti jasmani dan rohani, dengan mengunjungi tempat peristirahatan seperti mata air panas yang mengandung mineral yang dapat menyembuhkan, tempat yang mempunyai iklim udara yang meyehatkan atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya.

3. Wisata Olahraga

Ini dimasudkan wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolahraga atau memang sengaja bermaksud mengambil bagian aktif dalam pesta olah raga di suatu tempat atau negara seperti Asean Games, Olympiade, Thomas dan Uber Cup, Wimbeldon, Tour de Fance, F1, World Cup dan jenis olahraga lainnya

2. Wisata Komersial

Jenis ini termasuk perjalanan untuk mengunjungi pameran-pameran dan pekan raya yang bersifat komersil, seperti pameran industri, pameran dagang dan sebagainya.

3. Wisata industry

Erat kaitannya dengan wisata komersial. Perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang biasa ke suatu kompleks atau daerah perindustrian yang banyak terdapat pabrik-pabrik atau bengkel-bengkel besar dengan maksud dan tujuan untuk mengadakan peninjauan atau penelitian.

4. Wisata Politik

Jenis ini meliputi pejalanan yang dilakukan untuk mengunjungi atau mengambil bagian secara aktif dalam peristiwa kegiatan politik seperti peringatan ulang tahun suatu negara atau perayaan hari kemerdekaan dimana fasilitas akomodasi, sarana angkutan dan berbagai atraksi diadakan secara megah dan meriah bagi para pengunjung

5. Wisata Pertanian

Jenis wisata ini adalah pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi ataupun hanya sekedar melihat-lihat.

6. Wisata Maritim (marina) atau Bahari

Jenis wisata ini banyak kaitannya dengan kegiatan di air seperti di danau, sungai, pantai, teluk atau laut lepas seperti memancing, berlayar, menyelam, berselancar dan lain-lain. Jenis wisata ini dapat juga disebut Wisata Tirta. Indonesia yang merupakan daerah kepulauan kaya akan wisata jenis ini.

7. Wisata Cagar Alam

Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta tumbuhtumbuhan yang jarang terdapat di tempat lain

8. Wisata Religi/Rohani

Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan agama, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok masyarakat. Bisa dilakukan perorangan atau rombongan ke tempat-tempat suci, makam-makam orang besar atau yang diagungkan.

9. Wisata petualangan

Dikenal dengan istilah adventure tourism. Jenis wisata ini dilakukan oleh mereka yang ingin melakukan petualangan atau hal-hal yang menantang, seperti memasuki hutan belantara, mendaki tebing terjal, bungy jumping, arung jeram, wisata kutub, wisata ruang angkasa dan lain sebagainya.

10. Wisata Pendidikan

Jenis wisata ini adalah dikaitkan dengan proses belajar mengajar, praktikum di laboratorium, di sekolah, perguruan tinggi yang sering dilakukan secara kelompok, sering disebut dengan study banding.


03 Maret 2024

langkah nyata untuk mewujudkan generasi dan industri ramah lingkungan

 
sumber gambar : unsplash.com

kita semua harus mempelajari pentingnya dampak pelestarian dan mulai menerapkan ekonomi hijau di Indonesia karena Manusia mengandalkan air dan udara bersih serta iklim yang cukup baik untuk mendukung kehidupan; tanah, sungai dan laut yang subur dan produktif untuk sumber makanan; sumber mineral dan energi untuk mendorong perekonomian. Dalam dunia di mana sumber daya alam semakin langka, biaya sosial dari polusi dan perubahan iklim semakin meningkat, dan ekosistem yang mendukung kehidupan terancam, keberlanjutan kesejahteraan manusia secara fundamental ikut terancam. Sehingga perlu adanya mempelajari pentingnya dampak lingkungan dalam mendukung ekonomi hijau di indonesia. 
 
konsep ekonomi hijau dan pertumbuhan hijau adalah gerakan menuju pendekatan yang lebih terintegrasi dan komprehensif untuk menggabungkan faktor sosial dan lingkungan dalam proses ekonomi demi mencapai pembangunan berkelanjutan. Kehadiran konsep ekonomi hijau bukan menjadi pengganti pembangunan berkelanjutan, melainkan penegasan bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai dengan memastikan manusia hidup dalam model ekonomi yang tepat dan berwawasan lingkungan. Model ekonomi yang dimaksud sebagai ekonomi yang tumbuh dengan berlandaskan pada keadilan sosial dan keadilan ekologis, artinya tidak menimbulkan degradasi kualitas lingkungan.

langkah nyata untuk mewujudkan generasi dan industri ramah lingkungan :

  1. Mematikan saluran yang tersambung listrik saat tidak diperlukan.
  2. Gunakan kembali peralatan makan serta tas belanja terbuat dari bahan selain plastic.
  3. Menghemat air.
  4. Mengurangi emisi karbon dengan kurangi terbang, alternatif yang bisa digunakan menggunakan handphone atau web conference.
  5. Hindari atau sebisa mungkin meminimalisir penggunaan kertas.
  6. Bepergian dengan bijak menggunakan transportasi umum.
  7. Daur ulang dengan memisahkan sampah sesuai kategori.
  8. Mendukung produk lokal organic yang ramah lingkungan.
  9. Menyebarluaskan cara berpartisipasi dalam mendukung Ekonomi Hijau agar
  10. mempunyai gaya hidup berkelanjutan.

02 Maret 2024

pengertian, jenis dan prinsip kerja incenerator

A. pengertian dan penjelasan

1. Incinerator

sumber gambar : unsplash.com

Incinerator adalah tungku pembakaran untuk mengolah limbah padat, yang mengkonversi materi padat (sampah) menjadi materi gas, dan abu, (bottom ash dan fly ash). Insinerasi merupakan proses pengolahan limbah padat dengan cara pembakaran pada temperatur lebih dari 800oC untuk mereduksi sampah mudah terbakar (combustible) yang sudah tidak dapat didaur ulang lagi, membunuh bakteri, virus, dan kimia toksik. (Fadly, 2014)

2. Limbah B3

limbah B3 dapat diartikan sebagai suatu buangan atau limbah yang sifat dan konsentrasinya mengandung zat yang beracun dan berbahaya sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, dan mengancam kelangsungan hidup manusia serta organisme lainya. Limbah B3 bukan hanya dapat dihasilkan dari kegiatan industri. Kegiatan rumah tangga juga menghasilkan beberapa limbah jenis ini. Beberapa contoh limbah B3 yang dihasilkan rumah tangga domestik) di antaranya bekas pengharum ruangan, pemutih pakaian, deterjen pakaian, pembersih kamar mandi, pembersih kaca/jendela, pembersih lantai, pengkilat kayu, pembersih oven, pembasmi serangga, lem perekat, hair spray, dan batu baterai. (Mulyadi, 2019)

B. Jenis-Jenis

1. Jenis Incinerator

Terdapat beberapa jenis insinerator yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

a. Fixed bed incinerator

Ini merupakan tipe konvensional. Pintu bukaan untuk memasukkan sampah berada di samping atau atas. Bagian piringan untuk menampung abu berada di bawah alat. Keuntungan insinerator tipe fixed bed adalah harga dan perawatannya relatif mudah dibandingkan dengan tipe lain. Selain itu, bentuknya sederhana dan tidak memerlukan lahan yang luas. Kerugian insinerator ini ada tiga macam. Pertama, kapasitas pembakaran sampah sangat sedikit. Kedua, tipe ini membutuhkan proses pemilahan sampah sebelum dibakar. Ketiga, efisiensinya cukup rendah dan emisinya masih cukup tinggi.

b. Moving grate incinerator

Insinerator moving grate sangat banyak digunakan secara umum. Insinerator ini mampu membakar 35 metrik ton sampah per jam dan dengan jenis sampah yang bervariasi. Proses pada insinerator ini terbagi menjadi tiga, yaitu pengeringan, pembakaran, dan pascapembakaran.

Keuntungan insinerator moving grate :

1) Mampu menampung berbagai jenis sampah tanpa pre-treatment

2) Teknologinya telah diakui dan dipakai luas untuk berbagai Negara

3) Kapasitas sampah yang di bakar cukup besarKerugian insinerator moving grate:

a) Kebutuhan udara lebih banyak sehingga volume gas buang lebih banyak

b) Biaya pembuatan dan perawatan lebih banyak

c. Fluidized bed incinerator

Insinerator berikutnya adalah fluidized bed atau yang disebut dengan ruang bakar dasar fluida. Ruang bakar ini menggunakan media pengaduk berupa pasir. Pembakaran akan menghasilkan campuran pasir yang homogen dengan pasir. Hal ini akan membuat pembakaran di dalam ruang bakar menjadi lebih merata. Kelebihan insinerator fluidized bed adalah desainnya sederhana sehingga biaya pemasangan dan perawatan yang lebih murah. Selain itu, efisiensi termalnya juga mencapai 90 persen. Kekurangan insinerator ini adalah kontrol operasi yang sulit dilakukan dan membutuhkan pemilahan jenis sampah untuk pembakaran yang lebih stabil.

d. Rotary klin incinerator

Insinerator rotary klin sangat cocok untuk pembakaran sampah campuran tampa pemilihan dan pencacahan. Namun, itu membuat alat ini membutuhkan biaya perawatan yang lebih tinggi. Beberapa jenis sampah mungkin menyebabkan erosi. Selain itu, jenis ini belum digunakan secara luas. (Faradiba, 2021)

2. Jenis Limbah B3

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :

a. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. Limbah ini tidak berasal dari proses utama, melainkan dari kegiatan pemeliharaan alat, inhibitor korosi, pelarutan kerak, pencucian, pengemasan dan lain-lain.b. Limbah B3 dari sumber spesifik. Limbah ini berasal dari proses suatu industri (kegiatan utama).

c. Limbah B3 dari sumber lain. Limbah ini berasal dari sumber yang tidak diduga, misalnya prodak kedaluarsa, sisa kemasan, tumpahan, dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi. (Mulyadi, 2019)

C. Sifat dan Klasifikasi

1. Sifat dan Klasifikasi Limbah B3

a. Mudah meledak (explosive)

Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar dapat meledak karena dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi lewat reaksi fisika atau kimia sederhana. Limbah ini sangat berbahaya baik saat penanganannya, pengangkutan, hingga pembuangannya karena bisa menyebabkan ledakan besar tanpa diduga-duga. Adapun contoh limbah B3 dengan sifat mudah meledak misalnya limbah bahan eksplosif dan limbah laboratorium seperti asam prikat.

b. Pengoksidasi (oxidizing)

Limbah pengoksidasi adalah limbah yang dapat melepaskan panas karena teroksidasi sehingga menimbulkan api saat bereaksi dengan bahan lainnya. Limbah ini jika tidak ditangani dengan serius dapat menyebabkan kebakaran besar pada ekosistem. Contoh limbah b3 dengan sifat pengoksidasi misalnya kaporit.

c. Mudah menyala (flammable)

Limbah yang memiliki sifat mudah sekali menyala adalah limbah yang dapat terbakar karena kontak dengan udara, nyala api, air, atau bahan lainnya meski dalam suhu dan tekanan standar. Contoh limbah B3 yang mudah menyala misalnya pelarut benzena, pelarut toluena atau pelarut asetonyang berasal dari industri cat, tinta, pembersihan logam, dan laboratorium kimia.

d. Beracun (moderately toxic)

Limbah beracun adalah limbah yang memiliki atau mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia atau hewan, sehingga menyebabkan keracunan, sakit, atau kematian baik melalui kontak pernafasan, kulit, maupun mulut. Contoh limbah b3 ini adalah limbah pertanian seperti buangan pestisida.

e. Berbahaya (harmful)

Limbah berbahaya adalah limbah yang baik dalam fase padat, cair maupun gas yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu melalui kontak inhalasi ataupun oral.

f. Korosif (corrosive)

Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang memiliki ciri dapat menyebabkan iritasi pada kulit, menyebabkan pengkaratan pada baja, mempunyai pH ≥ 2 (bila bersifat asam) dan pH ≥ 12,5 (bila bersifat basa). Contoh limbah B3 dengan ciri korosif misalnya, sisa asam sulfat yang digunakan dalam industri baja, limbah asam dari baterai dan accu, serta limbah pembersih sodium hidroksida pada industri logam.

g. Bersifat iritasi (irritant)

Limbah yang dapat menyebabkan iritasi adalah limbah yang menimbulkan sensitasi pada kulit, peradangan, maupun menyebabkan iritasi pernapasan, pusing, dan mengantuk bila terhirup. Contoh limbah ini adalah asam formiat yang dihasilkan dari industri karet.

h. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)

Limbah dengan karakteristik ini adalah limbah yang dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan ekosistem,misalnya limbah CFC atau Chlorofluorocarbon yang dihasilkan dari mesin pendingin.

i. Karsinogenik (carcinogenic), Teratogenik (teratogenic), Mutagenik (mutagenic)

Limbah karsinogenik adalah limbah yang dapat menyebabkan timbulnya sel kanker, teratogenik adalah limbah yang mempengaruhi pembentukan embrio, sedangkan limbah mutagenik adalah limbah yang dapat menyebabkan perubahan kromosom. (Mulyadi, 2019)

D. Prinsip Kerja Incinerator

Proses pembakaran yang terjadi di incinerator akan berlangsung melalui 3 tahap , yaitu:

1. Tahapan pertama adalah membuat air dalam sampah menjadi uap air, sehingga hasilnya menjadi kering dan siap terbakar.

2. Tahap kedua adalah terjadinya proses pirolisis, yakni pembakaran tidak sempurna, dimana suhu tidak terlalu tinggi.

3. Fase berikutnya adalah pembakaran sempurna. Ruang bakar pertama digunakan sebagai pembakar limbah, suhu dikendalikan antara 400 – 600 derajat celcius. Ruang bakar kedua digunakan sebagai pembakar asap dan bau dengan suhu antara 600 – 1200 derajat celcius.

Suplai oksigen dari udara luar yang ditambahkan agar terjadi oksidasi sehingga bahan limbah akan teroksidasi dan menjadi mudah terbakar. Seiring terjadinya proses pembakaran yang sempurna, maka secepatnya yang keluar dari cerobong menjadi transparan. (Syah, 2017

01 Maret 2024

pengertian, faktor dan manfaat produksi biogas sederhana

 A. Pegertian Biogas

sumber gamabar : unsplash.com

Biogas merupakan bahan bakar gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batubara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit.

Energi biogas adalah energi yang dihasilkan dari limbah organik seperti kotoran ternak, atau limbah dapur seperti sayuran yang sudah digunakan. Limbah-limbah tersebut akan melalui proses urai yang dinamakan anaerobik digester di ruang kedap udara. Komponen utama dari energi biogas ini adalah gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Kedua gas tersebut dapat dibakar atau dioksidasi dan melepas energi, dan energi tersebutlah yang dapat dimanfaatkan manusia untuk kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, besarnya komponen gas tersebut tergantung pada proses anaerobik dan komposisi dari bahan dasar pembuatan energi biogas. Semakin besar kandungan metana dari energi biogas, maka akan semakin besar juga energi yang bisa dihasilkan dari biogas tersebut.

Biogas sendiri dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai energi alternatif pengganti LPG untuk memasak dan bahan bakar generator untuk menghasilkan listrik. Selain itu, biogas dinilai lebih aman untuk bumi karena pembakaran biogas mampu mengurangi emisi gas kaca. Biogas juga dapat mengurangi bau, serangga, dan patogen yang berasal dari timbunan kotoran tradisional. (Sysadmin, 2021)

B. Pemanfaatan biogas

pemanfaatan Biogas bisa dipergunakan untuk menyuplay kebutuhan energi rumah tangga dan lingkungan sekitarnya seperti untuk penerangan, memasak/kompor, dan pemanas air dan lain sebagainya. Selain itu, sisa produksi akhir produk Biogas akan menghasilkan sejumlah limbah Biogas yang berupa kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) atau yang disebut dengan pupuk organik yang sangat kaya nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Yang pasti banyak manfaat yang dihasilkan dengan pemanfaatan kotoran sapi sebagai energi alternatif potensial, diantaranya adalah:

1. Pemanfaatan biogas untuk bahan bakar pembangkit listrik biogas.

2. Penyediaan energi alternatif untuk bahan bakar kompor rumah tangga berupa biogas dari kotoran ternak.

3. Mengurangi volume timbunan kotoran ternak yang berpotensi mencemari udara, tanah dan air.

4. Memanfaatkan kotoran ternak menjadi sesuatu yang lebih bernilai. (Aziz, 2016)

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi biogas

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembuatan biogas dengan metode fermentasi anaerob adalah sebagai berikut:

1. Jenis Material Organik

Bahan baku isian berupa bahan organik seperti kotoran ternak, limbah pertanian, sisa dapur, dan sampah organik. Bahan isian harus terhindar dari bahan anorganik seperti pasir, batu, beling, dan plastik. Bahan baku dalam bentuk selulosa lebih mudah dicerna oleh bakteri anaerobik. Sebaliknya, pencernaan akan lebih sukar dilakukan bakteri anaerob jika bahan bakunya banyak mengandung zat kayu. Kotoran sapi sangat baik dijadikan bahan baku karena banyak mengandung selulosa.

2. Rasio Karbon dan Nitrogen (C/N)

Ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba rata-rata lebih lama dalam menghasilkan biogas dibandingkan dengan ternak non ruminansia. Lamanya produksi biogas disebabkan oleh mutu pakan yang lebih rendah, segingga rasio C/N nya tinggi, akibatnya perkembangan mikroba pembentuk gas lebih lama dibandingkan yang bermutu tinggi. Tinggi rendahnya mutu ini tergantung pada nilai N (nitrogen) di dalam ransum. Namun demikian N juga tergantung pada C (karbon). Jadi, perbandingan C dan N akan menentukan lama tidaknya proses pembentukan biogas.

Mikroorganisme membutuhkan nitrogen dan karbon untuk proses asimilasi. Karbon digunakan sebagai energi sedangkan nitrogen digunakan untuk membangun struktur sel. Bakteri penghasil metana menggunakan karbon 30 kali lebih cepat dari pada nitrogen

3. Temperatur

Temperatur yang baik untuk proses pembuatan biogas adalah 30℃ hingga kira-kira 40℃ . Temperatur tersebut merupakan temperatur optimal bagi bakteri perombak untuk menghasilkan biogas.

4. Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan aktivitas bakteri. Kisaran pH optimal untuk produksi metana adalah 7-7,2 tetapi pada kisaran 7,2-8,0 masih diizinkan. Untuk mencegah penurunan pH pada awal pencernaan dan menjaga pHpada kisaran yang diiinkan, maka dibutuhkan buffer yakni dengan penambahan larutan kapur.

Derajat keasaman sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroorganisme. Derajat keasaman yang optimum bagi kehidupan mikroorganisme adalah 6,8-7,8. Pada tahap awal fermentasi bahan organik akan terbentuk asam (asam organik) yang akan menurunkan pH. Untuk mencegah terjadinya penurunan pH dapat dilakukan dengan menambahkan larutan kapur (ca(OH)2) atau kapur CaCO3. (Nugraha, 2016)

D. Manfaat Biogas

Biogas memberikan banyak manfaat nilai tambah untuk masyarakat dari limbah organik.

1. Pertanian

Anaerob pada kotoran ternak dan sisa makanan organic memberikan manfaat bagi sektor pertanian. Beberapa manfaat termasuk :

a. Diversifikasi keuangan dan mitigasi risiko melalui penjualan energy.

b. Mendukung pengolahan lokal produksi pertanian.

2. Ekonomis

Manfaat ekonomi hijau dari biogas sangat besar dan meliputi :

a. Penciptaan lapangan kerja lokal di bidang teknis, manufaktur dan konstruksi/perdagangan.

b. Pembangunan ekonomi menghasilkan miliaran dollar investasi di masyarakat pedesaan.

c. Penciptaan produk sampingan yang berguna dari limbah, bertindak sebagai pengganda ekonomi yang signifikan.

26 Februari 2024

Faktor yang mempengaruhi proses pengomposan

sumber gambar : unsplash.com

Sampah merupakan materi atau zat, baik yang bersifat organic maupun anorganik yang dihasilkan dari setiap aktivitas manusia. Aktivitas bisa dalam rumah tangga, industri, maupun kegiatan komersial. Sampah menjadi persoalan yang cukup serius bagi masyarakat terutama di wilayah perkotaan. Selama ini masyarakat membuang begitu saja sampah ke tempattempat sampah dan menyerahkan urusan selanjutnya kepada petugas kebersihan dan urusan selesai. Tetapi sesungguhnya permasalahan tidak selesai sampai di situ. Timbunan sampah di tempat pembuangan akhir menjadi problem tersendiri, problem kesehatan, pencemaran dan keindahan lingkungan (Mifbakhuddin, dkk, 2018).

Di negara-negara yang sudah maju biasanya sampah sudah diperkenalkan kepada anak-anak sekolah sejak dini. Pola itu meliputi reduce, reuse dan recycle, serta composting (3RC) yang merupakan dasar pengelolaan sampah secara terpadu. Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk pencegah penimbunan sampah. Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Recycle (mendaur ulang) merupakan kegiatan untuk mengolah kembali sampah sehingga dapat mengurangi penumpukan sampah, dan composting yang merupakan dasar dari pengelolaan sampah secara terpadu menjadi suatu pupuk organik (Sidarto, 2017).

A. Proses Pengelolaan Sampah

sumber gambar : pixabay.com

Secara umum kegiatan pengelolaan sampah meliputi pewadahan dan pengangkutan sampah dari sumber ke tempat pembuangan akhir atau ke tempat pemusnahan. Dalam hal ini semua sampah dipandang sebagai barang yang tidak berguna dan tidak dapat dimanfaatkan sehingga mengelola sampah dianggap sebagai membuang biaya dan biasanya masyarakat enggan untuk membuka usaha pengelolaan sampah dan akhirnya pengelolaan sampah di bebankan kepada pemerintah. Secara garis besar proses pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut (Sidarto, 2017) :

  1. Sampah dikumpulkan ke tempat pengumpulan sampah dari rumah-rumah penduduk dengan menggunakan alat angkut berupa gerobak dorong setiap hari atau paling lama dua hari sekali.
  2. Sampah dipisah-pisahkan sesuai jenisnya yaitu, plastik, kertas, kaca logam, dan sampah organik kedalam tempat yang telah disediakan.
  3. Setelah dipisah-pisah sesuai dengan jenisnya, selanjutnya dilakukan pengepakan.
  4. Sampah dari plastik, kertas, dan kaca-logam, langsung dijual kepada pengepul sampah.
  5. Untuk sampah organik diproses menjadi kompos dan setelah jadi dapat dijual kepada petani atau masyarakat yang membutuhkan.

Kompos merupakan bahan organik yang terdiri dari sisa-sisa tanaman, hewan, ataupun sampah-sampah kota yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan sebelum bahan tersebut ditambahkan kedalam tanah. Bahan utama kompos dapat berupa sampah rumah tangga, daun-daunan, jerami alangalang, rumput-rumputan, sekam, batang jagung, kotoran hewan, dan bahan lainya terutama yang mudah busuk. Kandungan unsur hara dalam pupuk organic tidak terlalu tinggi tapi jenis pupuk ini memiliki keistimewan lain yaitu dapat memperbaiki sifat tanah, struktur tanah, daya menahan air dan kation-kation tanah ( Ida 2015 ).

B. Faktor yang mempengaruhi proses pengomposan

sumber gambar : pixabay.com

1. Ukuran bahan

Proses pengomposan dapat dipercepat jika bahan mentah kompos dicincang menjadi bahan yang lebih kecil. Bahan yang kecil akan cepat didekomposisi karena peningkatan luas permukaan untuk aktivitas organisme perombak

2. Nisbah Karbon-Nitrogen (C/N)

Nisbah C/N bahan organik merupakan factor yang paling penting dalam pengomposan. Hal tersebut disebabkan mikroorganisme membutuhkan karbon untuk menyediakan energi dan N yang berperan dalam memelihra dan membangun sel tubuhnya (Gunawan dan Surdiyanto, 2016). Kisaran nisbah C/N yang ideal adalah 20-40, dan nisbah yang terbaik adalah. Nisbah C/N yang tinggi akan mengakibatkan proses berjalan lambat karena kandungan N yang rendah, sebaliknya jika nisbah C/N terlalu rendah akan menyebabkan terbentuk amoniak, sehingga N akan hilang ke udara (Gunawan dan Surdiyanto, 2016).

3. Kelembaban

Dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme sangat tergantung pada kelembaban. Umumnya mikroorganisme dapat bekerja dengan kelembaban sekitar 40%-75%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme dapat bekerja secara optimal. Kelembaban yang lebih tinggi atau rendah dapat menyebabkan mikroorganisme tidak berkembang atau mati.

4. Temperatur Pengomposan

Pengomposan akan berjalan optimal pada suhu yang sesui dengan suhu optimum pertumbuhan mikroorganisme perombak. Suhu optimum pengomposan berkisar antara 35-55o C, akan tetapi setiap kelompokmikroorganisme mempunyai suhu optimum yang berbeda sehingga suhu pengomposan merupakan integrasi dari berbagai jenis mikroorganisme. Pada pengomposan secara aerobik, akan terjadi kenaikan suhu yang cepat selama 3-5 hari pertama. suhu tinggi berfungsi untuk membunuh bibit penyakit (patogen), menetralisir bibit hama (seperti lalat) dan mematikan bibit rumput yang resisten, 10 hari pertama pengomposan temperature naik hingga mencapai temperatur maksimal 64-69oC selama hampir 4 jam. Fase termofilik dicapai pada temperatur 50o C, 44o C, dan 38o C selama 14 hari. Kemudian temperatur turun hingga mendekati angka 30o C, (Nengsih, 2015).

5. Derajat Keasaman (pH)

Indikasi proses degradasi bahan organik pada proses pengomposan dapat dilakukan dengan mengamati terjadinya perubahan pH kompos. Derajat keasaman (pH) yang dituju adalah 6-8,5 yaitu kisaran pH yang pada umumnya ideal bagi tanaman. Hasil dekomposisi bahan organik ini menghasilkan kompos yang bersifat netral sebagai akibat dari sifat-sifat basa bahan organik yang difermentasikan. Pada pengomposan pupuk organik pada nilai pH pada hari ketiga berkisar dari 7,66-8,84 dan hari keenam berkisar dari 8,66-9,08 (Nengsih, 2015).

6. Mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan

Pengomposan akan berjalan lama jika mikroorganisme perombak pada permulaanya sedikit. Mikroorganisme sering ditambahkan ke bahan yang akan di komposkan yang bertujuan untuk mempercepat pengomposan. Populasi mikroorganisme selama berlangsungnya selama proses pengomposan akan berfluktuasi.berdasrkan kondisi habitatnya (terutama suhu), mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan tersebut terdiri dari dua golongan yaitu mesofilik dan termofilik. Mikroorganisme yang berperan adalah termofilik mikroorganisme mesofilik pada hakekatnya berfungsi memperkecil ukuran partikel zat organik sehingga luas permukaan partikel bertambah. Bakteri termofilik yang tumbuh dalam waktu yang terbatas berfungsi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan protein, sehingga bahan-bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat.

C. Kualitas Kompos

Indonesia telah memiliki standar kualitas kompos, yaitu SNI 19-7030-2004 dan peraturan menteri pertanian No. 02/Pert/HK.060/2/2006. Didalam standard ini termuat batas-batas maksimum atau minimum sifat-sifat fisik, kimiawi atau biologi kompos. Untuk mengetahui seluruh kriteria kualitas kompos ini memerlukan analisa labolatorium. Standarlisasi penting untuk kompos-kompos yang dijual kepasaran. Standar ini menjadi salah satu jaminan bahwa kompos yang dijual benar-benar merupakan kompos yang telah siap diaplikasikan dan tidak berbahaya bagi tanaman, manusia, maupun lingkungan. Standar kualitas yang terkandung dalam kompos matang dapat ditingkatkan.

20 Februari 2024

pengertian, klasifikasi, jenis dan cara mengolah sampah

 A. Pengertian Sampah

sumber gambar : pexels.com

  1. Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2018 sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
  2. Menurut definisi World Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Candra, 2006)
  3. Sampah merupakan bahan padat buangan dari kegiatan rumah tangga, perkantoran, rumah penginapan, hotel, rumah makan, industri, puing bahan bangunan, dan besi-besi tua bekas kendaraan bermotor. Sampah merupakan hasil samping yang sudah tidak terpakai (Harmanto, 2020)

B. Klasifikasi Sampah

Sampah dapat dibagi kedalam beberapa kategori berdasarkan sumber pengklasifikasiannya, antara lain :

1. Berdasarkan dapat atau tidak dibakar

    •  Mudah terbakar. Contohnya adalah kertas, plastik, daun kering dan kayu.
    • Tidak mudah terbakar. Contohnya adalah kaleng, besi, gelas dan lain-lainnya.

2. Berdasarkan dapat atau tidaknya proses pembusukan

    • Mudah membusuk. Contohnya adalah sisa makanan, potongan daging dan lain sebagainya.
    • Sulit membusuk. Contohnya plastik, karet, kaleng dan lain sebagainya.

3. Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah

    • Garbage, yaitu sampah yang terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat. Khususnya jika cuaca panas, proses pembusukan sering kali menimbulkan bau busuk. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar dan lain sebagainya.
    • Rubbish, jenis sampah ini dibagi menjadi dua: yaitu jenis sampah rubbish yang mudah terbakar dan yang tidak mudah terbakar.
    • Ashes, yaitu jenis sampah dari semua sisa pembakaran dari mesin industri.
    • Sreet sweeping, yaitu aneka sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau manusia.
    • Dead animal, yaitu sampah dari jenis bangkai binatang besar seperti anjing, kucing, dan lainnya yang mati akibat kecelakaan atau mati secara alamiah.
    • House hold refuse, yaitu jenis sampah campuran semisal, garbage, ashes, rubbish yang berasal dari perumahan atau pemukiman.
    • Abandoned vehicle, yaitu jenis sampah yang berasal dari bangkai kendaraan.
    • Demolision waste, yaitu sampah yang berasal dari hasil sisa-sisa pembangunan gedung. Sampah jenis ini juga dikenal dengan contructions waste dan biasanya berwujud material tanah uruk, batu dan kayu.
    • Sampah industri yaitu segala jenis residu dari sektor pertanian, perkebunan dan industrial.
    • Santage solid, yaitu jenis sampah terdiri dari benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat organik pada pintu masuk pengolahan limbah cair.
    • Sampah khusus atau sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat radioaktif (Chandra, B 2006 pengantar kesehatan lingkungan).

C. Jenis-Jenis Sampah berdasarkan sifatnya

  1. Organik Sampah organik merupakan jenis sampah mudah membusuk misal sisa makanan, sayuran, daun kering dan lainnya. Kelebihan dari sampah ini dapat diolah sehingga dapat digunakan sebagai pupuk kompos. 
  2. Anorganik Selanjutnya adalah jenis sampah anorganik yang merupakan sampah tidak mudah membusuk, antara lain seperti plastik wadah, kertas, botol, gelas minuman, kayu, pembungkus makanan, dan masih banyak lagi. Sampah ini dapat Anda jadikan sampah komersial atau sampah yang pada nantinya laku dijual guna dijadikan produk lain. Dengan sampah ini Anda juga dapat membuat suatu kerajinan tangan seperti tas yang menarik.
  3. Beracun (B3) Berikutnya adalah sampah B3 atau beracun, biasanya sampah ini berasal dari limbah rumah sakit, limbah pabrik atau lainnya. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang termasuk sampah B3 ialah sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Sampah B3 ini memiliki ciri lain yakni sampah yang belum dapat diolah dengan cara teknologi dan timbul secara periodik.

D. Jenis Jenis Sampah Berdasarkan Bentuknya

  1. Padat Sampah padat merupakan semua atau segala bahan buangan. Terkecuali, urin, kotoran manusia dan juga sampah cair lainnya. 
  2. Cair Selanjutnya ada sampah cair yang merupakan sebuah bahan cairan yang sudah digunakan dan tak dibutuhkan kembali kemudian dibuah ke tempat pembuangan.

E. Jenis Jenis Sampah Berdasarkan Sumbernya 

  1. Sampah industri ialah sampah yang berasal dari daerah industri yang terdiri dari sampah umum dan limbah berbahaya cair atau padat. 
  2. Sampah konsumsi ialah sampah yang dihasilkan oleh manusia dari proses penggunaan barang seperti kulit makanan dan sisa makanan. 
  3. Sampah manusia ialah sampah hasil dari pencernaan manusia, seperti feses dan urin.
  4. Sampah pertambangan 
  5. Sampah alam ialah sampah yang diproduksi di kehidupan liar dan melalui proses daur ulang alami, seperti daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. 
  6. Sampah nuklir ialah sampah yang dihasilkan dari fusi dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga manusia.

F. Jenis Sampah Berbahaya yang Berbahaya Jika Dibuang Sembarangan 

a. Baterai 

Baterai mengandung bahan kimia yang beracun seperti merkuri, nikel, dan kadmium. Jika baterai tersebut berakhir di tempat pembuangan sampah, bahan kimia tersebut dapat larut ke dalam tanah atau sistem air. 

b. Pestisida 

Pupuk taman berbasis kimia, herbisida, dan pestisida tidak boleh dicurahkan ke saluran pembuangan atau dibuang ke sampah, karena pestisida memiliki bahan yang amat berbahaya untuk makhluk hidup maupun ekosistem dalam cakupan luas. (Adytya, 2020)

G. Pengelolaan Sampah

Merupakan pengendalian terhadap timbulan sampah, penyimpanan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan sampah dengan suatu cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip terbaik yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat, ekonomi, tehnik, perlindungan alam, keindahan dan pertimbangan lingkungan lainnya serta mempertimbangkan masyarakat luas (Tchobanoglous, et al, 1993).

Pengelolaan Sampah menurut Undang-Undang No.18 Tahun 2008 merupakan suatu kegiatan mengurangi dan menangani sampah yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Undang-Undang tersebut menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan secara komprehensif dari hulu sampai hilir. Kegiatan mengurangi dan menangani sampah terkait erat dengan konsep 3 R, yang terdiri dari reduce (mengurangi timbulan sampah pada sumber), reuse (pakai ulang), recycle (daur ulang) yaitu mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak berguna lagi dan memanfaatkan sampah menjadi barang lain. (UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH)

H. Sistem Pengelolaan Persampahan

Usaha mengatur atau mengelola sampah dimulai dari proses pengumpulan, pemisahan, pemindahan sampai pengolahan dan pembuangan akhir. Pengelolaan sampah terdiri dari dua jenis yaitu pengelolaan setempat (individu) dan pengelolaan terpusat untuk lingkungan atau perkotaan. Pada dasarnya sistem pengelolaan sampah perkotaan dapat dilihat dari komponen-komponen yang saling mendukung satu dengan yang lain saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yaitu kota yang bersih, sehat dan teratur. Komponen tersebut adalah aspek teknik operasional, aspek kelembagaan, aspek pembiayaan, aspek hukum dan pengaturan, dan aspek peran serta masyarakat. Sistem pengelolaan limbah padat perkotaan diperlukan tindakan terkoordinatif, sinkronisasi dan simplikasi. (Amri, 2019)

I. Kualitas dan Kuantitas Sampah

Kuantitas dan kualitas sampah sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi produksi sampah, yaitu: 

  1. Jumlah penduduk semakin banyak jumlah penduduk maka semakin banyak pula produksi sampahnya, hal ini berpacu dengan laju pertambahan penduduk; 
  2. Keadaan sosial ekonomi, semakin tinggi sosial ekonomi masyarakat maka semakin banyak sampah yang diproduksi yang biasanya bersifat sampah tidak dapat membusuk dan hal ini tergantung bahan yang tersedia, peraturan yang berlaku juga kesadaran masyarakat; 
  3. Kemajuan teknologi, kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam pula. (PANGESTUTI, 2020)

J. Pewadahan

Pewadahan sampah merupakan cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal. Wadah sampah individual umumnya ditempatkan di muka rumah atau bangunan lainnya. Sedangkan wadah sampah komunal ditempatkan di tempat terbuka yang mudah diakses. Sampah diwadahi sehingga memudahkan dalam pengangkutannya. Idealnya jenis wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dikelola agar memudahkan dalam penanganan berikutnya, khususnya dalam upaya daur ulang. Di samping itu, dengan adanya wadah yang baik, maka :

    1. Bau akibat pembusukan sampah yang juga menarik datangnya lalat, dapat diatasi.
    2. Air hujan yang berpotensi menambah kadar air di sampah, dapat dikendalikan.
    3. Pencampuran sampah yang tidak sejenis, dapat dihindari

Berdasarkan letak dan kebutuhan dalam sistem penanganan sampah, maka pewadahan sampah daptA dibagi menjadi beberapa tingkat (level) yaitu:

    • Level-1 : wadah sampah yang menampung sampah langsung dari sumbernya. Pada umumnya wadah sampah pertama ini diletakkan di tempat-tempat yang terlihat dan mudah dicapai oleh pemakai, misalnya diletakkan di dapur, di ruang kerja, dsb. Biasanya wadah samp ah jenis ini adalah tidak statis, tetapi mudah diangkat dan dibawa ke wadah sampah level-2.
    • Level-2: bersifat sebagai pengumpul sementara, merupakan wadah yang menampung sampah dari wadah level -1 maupun langsung dari sumbernya. Wadah sampah level-2 ini diletakkan di luar kantor, sekolah, rumah, atau tepi jalan atau dalam ruang yang disediakan, seperti dalam apartemen bertingkat. Melihat perannya yang berfungsi sebagai titik temu antara sumber sampah dan sistem pengumpul, maka guna kemudahan dalam pemindahannya, wadah sampah ini seharusnya tidak bersifat permanen, seperti yang diarahkan dalam SNI tentang pengelolaan sampah di Indonesia. Namun pada kenyataannya di permukiman permanent, akan dijumpai wadah sampah dalam bentuk bak sampah permanen di depan rumah, yang menambah waktu operasi untuk pengosongannya
    • Level-3: merupakan wadah sentral, biasanya bervolume besar yang akan menampung sampah dari wadah level-2, bila sistem memang membutuhkan. Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi khusus dan ditempatkan sesuai dengan sistem pengangkutan sampahnya. Mengingat bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah tersebut, maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : kuat dan tahan terhadap korosi, kedap air, tidak mengeluarkan bau, tidak dapat dimasuki serangga dan binatang, serta kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung.

 Pewadahan dimulai dengan pemilahan baik untuk pewadahan individual maupun komunal, dan sebaiknya disesuaikan dengan jenis sampah. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

    1. Pada umumnya wadah sampah individual ditempatkan di tepi jalan atau di muka fasilitas umum, dan wadah sampah komunal terletak di suatu tempat yang tebuka, sehingga memudahkan para petugas untuk mengambilnya dengan cepat, teratur, dan higienis.
    2. Wadah sampah dari rumah sebaiknya diletakkan di halaman
    3. muka, dianjurkan tidak di luar pagar, sedang wadah sampah hotel dan sejenisnya ditempatkan di halaman belakang
    4. Tidak mengambil lahan trotoar, kecuali bagi wadah sampah untuk pejalan kaki
    5. Didesain secara indah, dan dijamin kebersihannya, khususnya bila terletak di jalan protokol
    6. Tidak mengganggu pemaai jalan atau sarana umum lainnya
    7. Mudah untuk mengoperasiannya, yaiku mudah dan cepat untuk dikosongkan
    8. Jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m.
    9. Mudah dijangkau oleh petugas sehingga waktu pengambilan dapat lebih cepat dan singkat
    10. Aman dari gangguan binatang ataupun dari pemungut barang bekas, sehingga sampah tidak dalam keadaan berserakan
    11. Tidak mudah rusak dan kedap air (Pirngadie, 2006)

K. Jenis Pengumpulan Sampah

Pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke 

    1. tempat pembuangan sementara 
    2. pengolahan sampah skala kawasan, atau 
    3. langsung ke tempat pembuangan atau pemrosesan akhir tanpa melalui proses pemindahan.

 Operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah mulai dari sumber sampah hingga ke lokasi pemerosesan akhir atau ke lokasi pembuangan akhir, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung (door to door), atau secara tidak langsung (dengan menggunakan Transfer Depo/Container) sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS), dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Secara Langsung (door to door): Pada sistem ini proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dilakukan bersamaan. Sampah dari tiap - tiap sumber akan diambil, dikumpulkan dan langsung diangkut ke tempat pemrosesan, atau ke tempat pembuangan akhir.
  2. Secara Tidak Langsung (Communal): Pada sistem ini, sebelum diangkut ke tempat pemerosesan, atau ke tempat pembuangan akhir, sampah dari masing-masing sumber akan dikumpulkan dahulu oleh sarana pengumpul seperti dalam gerobak. (SARI, 2020)